Latest Stories

Subscription

FREEWESTPAPUANOW!

TOP 5 Most Popular Post

Recently Comments


    PILIHAN BERITA DISINI

Translate

News

News

KEKERASAN DI PAPUA TAK AKAN PERNA BERAKHIR 0 Comments

By WEST PAPUA
Sunday, December 23, 2012 | Posted in ,

Ilustrasi
Menteri Hukum dan Ham, Menkokesra, Mensos, BIN, TNI, POlri, dan lembaga Strategis lainnya yang menegaskan “disepakati dan diputuskan Gerakan separatis di Propinsi Papua dan Papua Barat harus dibasmi agar keadaulatan Papua ke dalam NKRI tidak tergeser sedikit pun batas wilayah NKRI di Papua walau satu jingkal tanah pun ditangan musuh. Keutuhan NKRI di tanah Papua akan dipertahankan sampai titik darah penghabisan”, mendapat tanggapan keras dari Marthen Goo, Salah satu aktivis Papua.

Dalam komunikasi selulernya, Marthen menegaskan, Saya bingung dengan Negara Indonesia ini. Maksud separatis itu apa? Siapa yang separatis? Kalau dilihat, Aparta Negara itu justru separatis di Papua. Menteri-menteri itu justrus separatis di Papua. Sudah ribuan rakyat tak berdosa yang dibunuh Negara, dan proses pembunuhan itu terus terjadi. Kasus kemarin, 16 Desember 2012, 2 warga Papua yang dibunuh oleh Aparat Negara dalam keadaan tidak berdaya namun ditembak. Ratusan rakyat mengungsi. Kantor Dewan Adat dibakar. Ini sesungguhnya adalah kerja-kerja separatis. Di saat umat TUHAN menyiapkan hatinya untuk menerima kelahiran penyelamat mereka, justru mereka diperhadapkan pada kekerasan Negara melalui Apara Negara. Hal yang sama pun di bulan Desember tahun lalu, Desember 2011. 30 masyarakat di Paniai meninggal, 12 ibu hamil melahirkan di jalan akitbat penyisiran yang dilakukan Aparat Gabungan (TNI dan Polri) saat umat masyarakat Papua di Paniai hendak menyiapkan dirinya untuk menyambut Natal. OTK (Orang Tak Dikenal) melakukan penembakan gelap, dan akibat dari penembakan, aparat justru melakukan penyisiran terhadap rakyat sipil, tanpa mengungkap OTK. Ini terlihat skenario yang sengaja dikuat, agar melegitimasi penyisiran yang dilakukan Aparat.

Marthen menyebutkan beberapa contoh kasus, yakni di Wamena, penembakan terhadap Anggota Brimob oleh OTK, kemudian aparat melakukan penyisiran membabibuta terhadap rakyat di Wamena. Hal yang serupa pun, dikatakannya, ketika OTK menembak mati seorang anggota Polisi di Paniai,21 Agustus 2012, yang efeknya terjadi penyisiran dan penyiksaan serta pengusiran pasien dan perawat dari rumah sakit Umum di Enaro.

Marthen menegaskan, jika dilihat sesungguhnya yang separartis adalah Negara Indonesia di Papua, hal itu dilihat dari kasus kejahatan yang dilakukan Negara Indonesia di Papua melalui aparat Negara, semenjak dicaploknya Papua hingga saat ini. Belum lagi, jika dilihat dari sektor lain seperti diskrimanasi dan pembangunan bias migran dan lainnya.

Marthen menambahkan, semestinya Negara malu. Negara tidak perna memberikan tanah untuk orang Papua hidup. Tanah Papua juga bukan diciptakan Negara. Negara Indonesia itu pendatang baru di Papua. Orang Papua sudah hidup berabad-abad di Papua, ketika awal orang Papua diciptakan dengan alamnya. Semestinya Negara malu dengan berkata “tidak akan berikan sedikit jengkalan tanah pun kepada musuh”. yang musuh itu siapa? Negara yang justru menciptakan musuh di atas tanah orang lain. Ko itu tanah Papua tapi seakan Negara yang memberikan tanah untuk orang Papua hidup dan seenaknya menstigma separatis dan musuh. masa orang Papua yang menuntut keadilan dianggap musuh? Inikan kacau! Pernyataan ini sesungguhnya Negara harus malu dan merendah diri karena sudah mencaplok Papua masuk kedalam NKRI dan Negara harus memberikan rasa aman dan perlindungan terhadap orang papua, membangun rakyat Papua, bukan membunuh orang Papua seenaknya agar kekayaan Papua dia ambil seenaknya. Ini adalah upaya pemusnaan orang Papua dari tanah Papua. Ini tidak benar. Peryanyataan petinggi Negara itu menantang kemanusiaan, dan harus dilawan demi kemanusiaan.(BIKO***)

Sumber: Napas.com

Follow any responses to the RSS 2.0. Leave a response

Leave a reply

0 komentar for "KEKERASAN DI PAPUA TAK AKAN PERNA BERAKHIR "

Music (Suara Kriting)

Followers