Latest Stories

Subscription

FREEWESTPAPUANOW!

TOP 5 Most Popular Post

Recently Comments


    PILIHAN BERITA DISINI

Translate

News

News

Rasa Beban Hidup di Tanah Orang 0 Comments

By WEST PAPUA
Monday, January 7, 2013 | Posted in ,


Oleh : Manfred kudiai

Teman-teman perluh mengetahui bahwa hidup di perantauan (tanah orang) memang sangat sulit dan bukanlah hal yang mudah untuk menjalani kehidupan di tanah orang. Ada banyak cerita atau kisah yang kami alami dalam kehidupan kami selama kami merantau di tanah orang. Apapun yang terjadi akan terasa sulit untuk dijalani. Kami mengalami kisah ini sudah beranjak 2 tahun yang lalu di tanah kokonao semasa kami SMP.

Sekolah di perantauan orang alias jauh dari kedua orangtua yang kami sayangi. kisah dari hari ke hari rasa kangen dan rindu akan kampung halaman ada di hati. kadang rasa gelisah sedih yang selalu menghantui kami  di setiap saat.

Dengan begitu, masih tersimpan raut wajah kedua orangtua di dalam hati kami. Juga terkadang selalu teringat wajah kedua orangtua di setiap langkah dan kehidupan yang selalu kami jalani. Meskipun mereka jauh di hadapan kami, namun, dengan melalui doa mereka selalu ada dan bersama dengan kami di dalam benak hati.

Akan hal itu,  kami selalu merasa bangga terhadap kedua orangtua, yang kami tinggalkan di kampung halaman. Dengan meninggalkan orangtua, kami selalu berpikir bahwa, inilah masa yang kesulitan yang terindah yang kami hadapi.

Cenderawasih@
Ketika kami dihadapkan dengan berbagai macam tantangan dan rintangan. Baik dalam  pengaturan uang maupun dalam pengeluaran uang demi mencari kebutuhan yang kami butuhkan. Apapun itu, kami selalu mengatur dengan baik dalam hal pengaturan uang maupun yang lain.

Dengan begitu, kami merasa lebih mandiri demi mencapai kesuksesan yang telah kami janjikan kepada kedua orangtua. Kadang air mata pun menetes dengan tak sadar memikirkan nasib kami (harapan kami). Serasa belum percaya untuk mencapai cita-cita kami, sebab kami masih memegang kebiasaan sehari-hari (tingkah buruk kami) yang kadang bersifat negatif.

Semua kesedihan yang kami alami akan menjadikan sebagai pondasi dan batu sandaran untuk  untuk mencapai harapan dan cita-cita kami agar bisa mencapai kesuksesan pada masa yang indah. walaupun jarang kami belajar. Namun, juga karena banyak tantangan dan rintangan yang selalu membawa kami ke dalam kegagalan hidup.

Ketika cinta dan kasih sayang oleh kedua orangtua datang. Berarti dengan sendirinya menggantikan dengan para pembina asrama (pastor, suster dan para guru di sekolah). Itu menjadi orangtua kami yang sangat berarti dalam hidup kami. Dikala datang senang maupun susah, terkadang berpikir untuk selalu menyayangi dan mencintai orangtua kedua kami dengan penuh hormat.

Namun kadang kemudian selalu teringat pula kedua orangtua kami di kampung halaman. Seusai dengan apa yang  kami harapakan, kadang terbayang wajah orangtua yang selalu menumpukan rasa belas cintanya.

Dengan begitu, banyak teka-teki yang muncul dan harus dipecahkan untuk memperbaiki tingkahlaku serta kebiasaan yang buruk sehingga bisa memimpikan cita-cita dan harapan yang andal demi mencapai kesuksesan juga menjadi orang yang terbaik terhadap orangtua.

Kami  selalu mengalami kegagalan, namun itu bukan menjadi bahan pembicaraan juga sebagai bahan untuk mengehentikan semua jejak dan cita-cita kami, yang selalu kami harapkan. Dan kami berharap bahwa nantinya semua indah pada waktunya. Juga kami selalu berkeinginan untuk membahagiakan kedua orangtua kami masing–masing.

Untuk itu, kami selalu memegang komitmen bahwa kami harus menunjukkan bahwa kami  bisa, meskipun selalu berhadapan dengan rintangan yang membuat kami  harus jatuh. Namun kami selalu bangun lagi untuk mendapatkan kembali apa yang harus kami kejar, yakni cita-cita.

Hidup memang penuh dengan banyak teka-teki, bahkan tidak bisa di tebak kapan kita memulai dan mengakhirnya, semua datang secara tiba-tiba bahkan tidak sesuai dengan nalar  yang kita pikirkan. Dengan begitu, kami selalu mencoba untuk memperbaiki tindakan dan kesalahan kami sehingga nantinya tidak  masuk pada hal sia-sia (sifatnya fleksibel).
Dibalik itu juga, kami Selalu mendapatkan dukungan dari Tuhan (God), Orangtua dan keluarga  yang lain. Sehingga selalu setia dan mendukung dalam study kami. Ini adalah aprsiasi yang paling baik untuk kami. Dan karena ada dukungan dari mereka semua maka kami memunyai semangat 61 untuk terus bagkit dan maju melawan hal-hal yang belum pernah kami dapatkan. Dan pada akirnya kami mendapatkan sesuatu yang lebih berharga untuk masa depan kami.

 Inilah kisah hidup kami selama kami berada dan hidup di tanah orang, yakni tanah kokonao semasa kami SMP. Kehidupan yang kami lalui banyak kisah yang menarik namun, hanya kisah secara garis besar saja yang kami sajikan untuk saudara sekalian. Terima kasih.

Penulis : (Siswa SMK N 1 Kuala Kencana Timika, Papua)

Follow any responses to the RSS 2.0. Leave a response

Leave a reply

0 komentar for "Rasa Beban Hidup di Tanah Orang"

Music (Suara Kriting)

Followers