Latest Stories

Subscription

FREEWESTPAPUANOW!

TOP 5 Most Popular Post

Recently Comments


    PILIHAN BERITA DISINI

Translate

News

News

Beranikah Pemekaran Ditolak Seperti OTSUS? 0 Comments

By WEST PAPUA
Saturday, September 1, 2012 | Posted in ,


Jangankan Orang papua yang duduk dalam birokrat pemerintah. Masyarakat awam yang tidak sekolah, yang notabanenya  tidak bisa menulis dan membaca, juga tahu kalau pemekaran adalah penyaki mematikan dari Indonesia yang sedang dikembangkan dan diberikan kepada orang papua.

Memang awalnya ketika pemekaran ditawarkan oleh NKRI, rata-rata semua orang papua tanpa terkecuali saat itu menerima hanya karena kesal dengan para petinggi birokrat di Propinsi yang tidak menjalankan dana Otonomi Khusus secara merata sampai ke daerah pelosok-pelosok pantai maupun ke daerah pedalaman-pedalaman pegunungan.

Namun dengan berjalannya waktu setelah beberapa daerah dimekarkan seperti yang kita ketahui sekarang, banyak masalah yang muncul secara tiba-tiba. Baik yang dibuat atau diciptakan oleh orang papua sendiri maupun dari NKRI.

Pembunuhan secara sistematis antara orang papua sangat nampak, kemudian rasa benci, marah, jengkel, dan bahkan saling culik-mencuik juga terlihat sekali. Inilah sifat dan karakter busuk yang sudah ditanamkan NKRI melalui pemekaran.

Benar sekali seperti yang dikatakan andi gobai, pengelolah web umaginews bahwa  pemekaran adalah faktor utama atau biang keladi dari segala penyakit yang ada. Penyimpangan-penyimpangan itu muncul pada era otsus, tetapi lebih populernya pada era pemekaran (sekarang).  mengapa kita masih terus minta pemekaran? untung dan manfaatnya apa?. 

Terpikir sejenak rupanya benar juga, jika menengok kebelakang melihat sebelum pemekaran diorbitkan. Saling mengasihi dan berbagi adalah kunci hidup orang papua. walaupun bukan saudara sekandung, semarga, satu suku atau satu ras pun apabilah ada orang yang sangat membutuhkan pertolongan tanpa berpikir panjang detik itu juga pasti akan ditolong.

Sikap tolong-menolong, kasih akan sesama, tidak iri atau cemburu dan tidak saling menjatuhkan adalah kebiasaan atau budaya orang papua yang memang turun-temurun sudah dijalankan . intinya orang papua pada saat itu, tidak bisa melihat orang lain susah atau menderita. 

Namun, apakah sampai sekarang sifat dan karakter-karakter  itu masih dibawa?, pertanyaan yang paling gampang untuk dijawab, jawabanya telah hilang dan sudah tidak ada. Kehidupan orang papua zaman sekarang sudah terbalik 80% bahkan hampir mendekati 100% dari zaman dulu.

Tidak terdengar lagi suara-suara yang mengatakan pemekaran gagal, pemekaran harus dikembalikan dan lain sebagainya seperti saat OTSUS dulu. Malahan yang ada orang-orang papua jadikan ini sebagai sebuah ajang perlombahan untuk minta agar daerah-daerahnya harus dimekarkan segera. Baik di tingkat propinsi, kabupaten, kecamatan bahkan sampai tingkat desa.

Misalnya saja seperti yang dikatakan ketua KNPI Kabupaten Merauke, Dominikus Buliba Gebze S.sos, saat memberikan sambutan pada pelantikan Badan Pengurus KNPI. Kata dia, wilayah selatan papua harus berdiri sendiri. Karena dari berbagai persyaratan sudah terpenuhi. (tabloidjubi)

Heran tidak, orang papua ini bukannya bilang kami kembalikan sistem pemekaran karena lewat pemekaran terus bermunculan konflik internal yang sebelumnya belum pernah ada, tetapi malahan dia minta agar daerahnya dimekarkan.

Ini contoh dari sekian banyak orang papua yang selalu bersikap demikian tanpa memperdulikan nyawa orang papua yang semakin hari berkurang hanya karena pemekaran. Harta dan popularitas menjadi tujuan utam. 

Dengan demikian, pemekaran adalah penyakit ampuhnya NKRI yang bukan saja dirasakan dikulit malahan telah masuk sampai merasuk hati dan pikiran. Mental telah hancur berantakan. Sehingga dipastikan penyakit (pemekaran) ini sangat susah bahkan tidak mungkin hilang dalam waktu yang singkat. Butuh waktu panjang.

Jika demikian hilanglah sudah orang papua dari tanah yang dijanjikan dengan berlimpah ruahnya berbagai kekayaan alam. Mengapa? Karena menurut BPS (Badan Pusat Statistik) Propinsi  Papua di jayapura yang dirilis oleh tabloidjubi (14/6), populasi orang papua dengan orang pendatang jika dibandingkan dalam bentuk porsen adalah 30% : 70%. Coba lihat apakah dengan jumlah yang sedikit ini orang papua mampu bertahan sementara pemekaran juga terus dijalankan?

Jelas tidaklah, seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya bahwa antara 2015 dan 2020 orang papua hanya tinggal nama. Mari dengan waktu yang terbatas ini, kita buat satu komitmen sehati, sepikir, sejiwa untuk menolak semua tawaran busuk dari negara iblis ini. Berani berkata TIDAK MAU.  Menolak semua dengan kesungguhan hati. 

Misalnya seperti  Negara  india. Pada saat dijajah oleh Inggris, semua orang pribumi sepakat tidak akan memakai semua barang produk atau sistim apapun dari Inggris. Dan memang betul hanya dalam 10 tahun, para pedagang asing angkat kaki karena merasa rugi. Lalu berjalannya waktu, India pun merdeka menjadi sebuah negara.

Satu kebanggaan khusus buat mereka. Sebab mereka bukan hanya berhasil memperoleh kemerdekaan tetapi juga berhasil menorehkan nama mereka dalam sejarah dunia bahwa mereka adalah satu-satunya negara yang memperoleh kemerdekaan tanpa perang atau perlawanan. 

Sekarang pertanyaan bagi kita orang papua, apakah kita juga mampu menolak semua tawaran-tawaran dari NKRI layaknya orang-orang india?.  (amoye yogi)


Follow any responses to the RSS 2.0. Leave a response

Leave a reply

0 komentar for "Beranikah Pemekaran Ditolak Seperti OTSUS?"

Music (Suara Kriting)

Followers