Judul: POLITIK STIGMATISASI PADA PERJUANGAN RAKYAT PRIBUMI PAPUA BARAT:
Suatu Upaya RI Untuk Membunuh Penentuan Nasib Sendiri Bagi Bangsa Papua
Syalom. Ada kirim artikel menyikapi tudingan teroris oleh Kapolda Papua
dan menyikapi Pidato ibu Sidney Jones. Harap dipahami isinya dan mohon
meneruskan artikel ini lewat email kepada sesama aktifis Papua dan
simpatan di manca negara serta dinaikan ke face book atau media sosial
yang lain. Terima kasih. Judul Artikel: POLITIK STIGMATISASI PADA
PERJUANGAN RAKYAT PRIBUMI PAPUA BARAT: Suatu Upaya RI Untuk Membunuh
Penentuan Nasib Sendiri Bagi Bangsa Papua
Oleh: Selpius A. Bobii
25 Februari 2013
"Kami heran bahwa Kapolda Papua baru menjabat langsung tuduh KNPB
adalah teroris, nah ini bagian dari pengacau keamanan, ini sangat
keterlaluan, komentar Socratez S. Yoman, Ketua Umum Persekutuan Gereja-
Gereja Baptis Papua. (Sumber: Bintang Papua, Jumat, 25 Januari 2013,
hal. 3).
Tanggapan tokoh Gereja Papua, Socratez S. Yoman,
S.Th. M.A menyikapi tudingan teroris oleh Kapolda Papua kepada aktifis
Papua (Komite Nasional Papua Barat) adalah merupakan suara gereja
menolak tegas tudingan teroris oleh Negara Indonesia melalui Kapolda
Papua. Tanggapan tokoh Gereja itu juga menyatakan kepada Negara
Indonesia dan negara-negara di dunia serta Perserikatan Bangsa-Bangsa
bahwa orang Papua bukan teroris, orang Papua bukan Makar, orang Papua
bukan separatis, orang Papua bukan pengacau keamanan, orang Papua tidak
merong-rong keutuhan NKRI.
Dalam artikel ini, saya menyoroti
beberapa pertanyaan fundamental yaitu: 1). Mengapa Negara Indonesia
menstigmatisasi perjuangan bangsa Papua dengan tudingan: separatis,
makar, pengacau keamanan, teroris, dll?;
2). Mengapa orang Papua
bukan teroris, orang Papua bukan Makar, orang Papua bukan separatis,
orang Papua bukan pengacau keamanan, orang Papua tidak merong-rong
keutuhan NKRI?
3). Bagaimana tanggapan masyarakat Internasional
atas tudingan Pengacau Keamanan, Makar / Separatis, teroris, dll kepada
orang asli Papua?
4). Apa dampak stigmatisasi Pengacau keamanan, makar / separatis, teroris oleh RI terhadap perjuangan rakyat bangsa Papua?
5). Bagaimana siasat menghadapi stigmatisasi terhadap orang Papua yang digencarkan oleh Negara Indonesia melalui sistemnya?
Kelima pertanyaan mendasar ini, saya uraikan satu persatu dalam artikel ini.
I. PEMBUNGKAMAN PERJUANGAN BANGSA PAPUA MELALUI STIGMATISASI.
Strategi dan taktik politik stigmatisasi yang digencarkan oleh Negara
Indonesia melalui sistemnya terhadap aktifis Papua Merdeka adalah
merupakan suatu langkah menutupi segala bentuk kejahatan kemanusiaan
terhadap orang Papua dan sebagai langkah pembenaran untuk menumpas orang
asli Papua yang berjuang untuk kedaulatan Papua Barat.
Ada
tiga bentuk kejahatan kemanusiaan, yakni: Aneksasi kemerdekaan
kedaulatan suatu bangsa; Kejahatan Perang, dan Pemusnahan etnis. Negara
Indonesia telah dan sedang melakukan tiga kategori kejahatan kemanusiaan
ini. Setelah Negara Indonesia berhasil menganeksasi kemerdekaan
kedaulatan bangsa Papua melalui invasi politik dan militer yang dimulai
dengan Maklumat Tri Komando Rakyat (TRIKORA) oleh Presiden RI
(Soekarno), 19 Desember 1961, Negara Indonesia masih terus menerus
menerapkan operasi militer, baik secara terbuka dan terselubung (perang
terbuka dan tertutup), yang berdampak pada pemusnahan etnis Papua secara
pelan tapi pasti (slow motion genocide).
Salah satu
stigmatisasi yang muncul pada akhir-akhir ini adalah tudingan teroris
kepada para aktifis Papua Merdeka, khususnya kepada aktifis Komite
Nasional Papua Barat (KNPB).
Berikut ini tingkatan
stigmatisasi dari Negara Indonesia kepada orang asli Papua yang berjuang
untuk berdaulat penuh, yaitu: pertama-tama RI menyebut Organisasi Papua
Merdeka (OPM), Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) / Gerakan Pengacau
Lingkungan (GPL), Separatis atau Makar, Orang Tak Kenal (OTK), Sipil
bersenjata, dan Teroris.
Sebutan Organisasi Papua Merdeka
(OPM) dilabelkan oleh Negara Indonesia kepada orang Papua yang mengambil
sikap untuk berjuang kemerdekaan Papua Barat. Menurut tuan Forkorus
Yaboisembut S.Pd orang asli Papua menerima sebutan OPM setelah
mempertimbangkannya dan ternyata sebutan OPM itu tepat dan benar. Kini
OPM telah menjadi sebuah organisasi perlawanan yang menyatu dalam wadah
TPN PB (Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat) yang struktur dan
manajemen telah ada, walaupun belum ada komando terpusat.
Sebutan Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) / GPL adalah sebutan kedua yang
dimunculkan Negara Indonesia. Dengan adanya sebutan ini membenarkan
tindakan penumpasan (operasi militer)terhadap orang asli Papua yang
berjuang untuk berdaulat penuh. Juga melalui berbagai forum resmi dan
non resmi Republik Indonesia (RI) meyakinkan kepada masyarakat
Internasional bahwa di Papua ada Gerakan Pengacau Keamanan. Dengan
demikian meredam dukungan masyarakat Internasional soal status politik
bangsa Papua.
Stigmatisasi berikutnya adalah Makar atau
Separatis kepada aktifis Papua Merdeka oleh Negara Indonesia.
Stigmatisasi itu dilegalisasi dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana
(KUHP) yakni pasal 106 - 110 KUHP. Produk Hukum yang ditinggalkan oleh
Kerajaan Belanda ini, dalam penerapannya telah memakan korban nyawa
rakyat sipil dan materi dalam jumlah sangat banyak.
Pasal-pasal makar dalam KUHP ini sebagai upaya pembenaran dan melegalkan
operasi-operasi militer secara terbuka dan tertutup untuk menumpas
gerakan pembebasan nasional Papua Barat, penangkapan dan pemenjaraan
sewenang-wenang oleh RI. Pengorbanan moril dan materil yang dialami oleh
rakyat bangsa Papua tidak dapat dibayangkan dan tak dapat dilukiskan
dalam tulisan ini. Dan lebih mengerikan adalah pengorbanan nyawa rakyat
bangsa Papua dalam jumlah banyak akibat operasi militer terbuka dan
tertutup, serta operasi sipil. Singkatnya, stigmatisasi makar atau
separatis yang dilegalkan dalam KUHP adalah sebagai tameng untuk
melindungi diri dari berbagai kecaman dari masyarakat Internasional atas
tindakan kejahatan kemanusiaan kepada orang asli Papua hanya demi
menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Orang Tak Kenal (OTK) adalah istilah yang dimunculkan aparat polisi dan
militer Indonesia untuk menunjuk pelaku penembakan yang tidak diketahui
identitasnya. Menurut Agus Sananay Kraar (Tahanan Politik Papua di
penjara Abepura) bahwa istilah OTK ini melahirkan multi tafsir, apakah
dilakukan oleh pihak Papua atau pihak Indonesia; dan dapat mengarah pada
kambing hitam kepada orang Papua, saling tuduh menuduh pun terjadi.
Selain itu, ada istilah lain yang digunakan adalah kelompok sipil
bersenjata dan juga manusia bertopeng.
Stigmatisasi kepada
aktifis Papua Merdeka yang paling terakhir adalah tudingan Teroris.
Tudingan ini bukan tiba waktu tiba akal, tetapi ini sebuah skenario
besar Negara Indonesia yang sudah lama dirancang untuk menterorisasi
perjuangan bangsa Papua dalam upaya membunuh nasionalisme Papua Merdeka,
dengan demikian memperpanjang penindasan dan gerakan aktifis Papua
Merdeka menjadi musuh dunia. Upaya terorisasi perjuangan bangsa Papua
oleh Negara Indonesia melalui sistemnya adalah langkah Indonesia untuk
meningkatkan status operasi-operasi militer, baik secara terbuka dan
tertutup karena upaya-upaya lain yang selama ini diterapkan oleh RI di
Papua Barat tidak membuahkan hasil yang signifikan.
Berbagai
rekayasa dilakukan Negara Indonesia untuk membuat mosi tidak percaya
kepada masyarakat Internasional. Dengan jalan ini membunuh dukungan
masyarakat Internasional terhadap perjuangan bangsa Papua. Berikut ini
saya mengutip pernyataan Ed McWilliams: Tuduhan tindakan-tindakan
kriminal oleh beberapa anggota KNPB tidak dibenarkan dengan kuat dan
biasanya RI berupaya untuk menjelekkan nama organisasinya. KNPB dan
banyak organisasi lain di Papua maupun setiap pribadi memang sedang
mendorong untuk hak orang Papua diakui, khususnya hak menentukan nasib
sendiri yang sudah sangat lama tidak diakui. Tetapi semua usaha ini
secara umum dilakukan tanpa kekerasaan, demikian komentarnya. Artikel
tuan Ed McWilliams lengkapnya silahkan Anda kunjungi: www.westpapuamedia.com artikelnya dinaikan pada tanggal 2 Februari 2013.
II. ORANG PAPUA BUKAN MAKAR, BUKAN TERORIS, DLL.
Akar masalah Papua Barat bukan masalah makan minum artinya bukan
masalah kejahteraan, bukan masalah pendidikan, bukan juga masalah
kesehatan, tetapi akar masalah Papua adalah hak kemerdekaan kedaulatan
bangsa Papua yang telah dianeksasi ke dalam NKRI secara sepihak melalui
invasi politik dan militer atas dukungan penuh Amerika Serikat. Rakyat
bangsa Papua berjuang hanya untuk memulihkan kembali kemerdekaan
kedaulatan bangsa Papua yang dianeksasi ke dalam NKRI dengan
sewenang-wenang.
Fakta membuktikan bahwa justru negara
Indonesia dapat dikategorikan ke dalam pengacau keamanan (pengacau
lingkungan), makar/separatis, mendirikan negara dalam negara,
merong-rong kedaulatan Papua Barat dan sarang teroris. Berikut ini
penjelasan ku untuk membuktikan pernyataan di atas:
1). Siapa
yang sebenarnya pengacau keamanan? Justru yang mengacaukan keamanan di
Tanah Papua adalah negara Indonesia yang telah menganeksasi kemerdekaan
kedaulatan bangsa Papua ke dalam NKRI melalui Maklumat Tri Komando
Rakyat (TRIKORA) oleh Presiden RI, Soekarno, pada tanggal 19 Desember
1961, yang selanjutnya diwujudkan melalui invasi militer dan politik,
yang berpuncak pada Penentuan Pendapat Rakyat Papua pada tahun 1969 yang
kita sebut Cacat Hukum dan Moral. Dalam proses aneksasi itu didukung
penuh oleh Amerika Serikat hanya untuk mencapai kepentingan ekonomi dan
politik semata. Justru negara Indonesia melalui mesin-mesinnya
mengacaukan keamanan di Tanah Papua untuk mempertahankan Tanah Papua
dalam bingkai NKRI yang telah dianeksasi dengan cara-cara kotor dan
tidak beradab.
2). Siapa pembuat makar sesungguhnya? Justru
Negara Indonesia yang melakukan makar atas kemerdekaan kedaulatan bangsa
dan Negara Papua. Sejak tahun 1962 Negara Indonesia meningkatkan Invasi
politik dan militer untuk mewujudkan Maklumat Tiga Komando Rakyat
(TRIKORA) oleh Presiden RI. Aneksasi kemerdekaan kedaulatan bangsa Papua
ke dalam NKRI adalah tindakan makar yang dilakukan oleh Negara
Indonesia. Karena itu tudingan makar dari RI kepada orang Papua yang
berjuang untuk pembebasan bangsa Papua tidak dapat dibenarkan.
3). Siapa sebenarnya yang mendirikan negara dalam negara? Yang
mendirikan negara dalam negara adalah justru Negara Indonesia. Hal ini
dapat dibuktikan dalam maklumat Tri Komando Rakyat oleh Prisiden RI,
Soekarno dalam point pertama menyatakan: Bubarkan negara boneka Papua
buatan kolonial Belanda. Dalam point ini mengandung tiga hal penting,
yakni: a). Negara Indonesia telah mengakui adanya negara Papua Barat;
b). Tapi Negara Papua Barat itu dihina sebagai negara boneka; c). Negara
Papua Barat itu harus dibubarkan. Camkanlah bahwa pengakuan presiden
Indonesia adanya negara Papua dalam maklumat TRIKORA itu sah dan
mengikat. Dan di sisi lain maklumat TRIKORA itu adalah bukti outentik
adanya aneksasi Negara dan Bangsa Papua ke dalam NKRI.
4).
Siapa sebenarnya yang merong-rong kedaulatan? Tudingan merongrong
kedaulatan NKRI oleh Negara Indonesia sangat tidak tepat ditujukan
kepada rakyat bangsa Papua yang sudah dan sedang serta akan berjuang
untuk memulihkan hak-hak dasarnya, terutama hak fundamental yakni hak
kesulungan rakyat bangsa Papua (kemerdekaan kedaulatan) yang telah
dianeksasi ke dalam NKRI dengan sewenang-wenang. Jusrtu negara Indonesia
telah berhasil merong-rong kedaulatan Papua Barat dan berhasil aneksasi
bangsa Papua Barat ke dalam NKRI. Camkanlah bahwa orang asli Papua
berjuang bukan untuk menganeksasi atau mencaplok tanah Jawa, Tanah
Sulawesi, Tanah Madura, dan lain lain, tetapi bangsa Papua berjuang
untuk tanah leluhurnya berdaulat penuh (merdeka) sama seperti
bangsa-bangsa merdeka lain di dunia. Jadi orang asli Papua tidak sama
sekali merong-rong kedaulatan Tanah-Tanah lain di Indonesia. Orang asli
Papua berjuang untuk hak-hak dasarnya diakui dan dikembalikan, seperti
hak kemerdekaan kedaulatan bangsa Papua, yang dijamin oleh konstitusi
NKRI pada pembukaan Undang-undang Dasar 1945 pragraf pertama dan hukum
Internasional.
5). Siapa penganut teroris sesungguhnya?
Istilah teroris tidak ada dalam perjalanan hidup bangsa Papua. Nenek
moyong bangsa Papua tidak pernah mempraktekkan dan mengajarkan kepada
anak cucuhnya untuk meneror disertai dengan pembunuhan warga sipil
dengan sewenang-wenang. Walaupun ada perang suku di Papua, tetapi kedua
belah pihak tunduk dan taat pada tata cara perang suku yang telah
disepakati oleh kedua belah pihak. Bukan perang dengan sewenang-wenang
seperti yang dilakukan oleh militer dan polisi Indonesia di mana dalam
operasi militer memperkosa, mencuri, membakar rumah-rumah warga sipil,
mengusir warga sipil dari perkampungan, membunuh anak-anak dan istri
dari pihak lawan dengan brutal; serta mengadu domba suku-suku setempat
untuk saling membunuh dan hal itu digunakan oleh Negara Indonesia
sebagai bahan kampanye bahwa itu adalah perang suku.
Dalam
perjuangan bangsa Papua pun, para aktifis Papua Merdeka tidak pernah
menerapkan tindakan teror kepada warga sipil. Yang ada adalah gerakan
perjuangan pembebasan nasional Papua dengan menempuh cara-cara damai dan
tentang hal ini ditetapkan dalam Kongres Bangsa Papua pada tahun 2000.
Aktifis Papua merdeka tidak pernah menggunakan bom untuk menarik simpati
internasional atau menakuti warga sipil.
Aksi perlawanan oleh
Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN PB) dirimba raya Papua
yang seringkali kontak senjata dengan Polisi dan militer Indonesia
adalah hal yang biasa dalam perjuangan pembebasan nasional di mana pun
di dunia yang pernah berjuang untuk merdeka. Dengan adanya kontak
senjata itu, TPN PB menunjukkan eksistensi nasionalisme pembebasan
bangsa Papua dan menolak pendudukan pemerintahan Indonesia di Tanah
Papua. Sama seperti bangsa Indonesia memerdekakan dirinya dari
penjajahan Belanda dengan perlawanan senjata dari Tentara Indonesia, TPN
PB sebagai sayap militer melaksanakan fungsinya. Sasaran TPN PB adalah
kepada Polisi dan TNI, bukan kepada warga sipil. Wacana selama ini bahwa
TPN PB menembak warga sipil adalah tidak benar dan itu hanyalah
rekayasa aparat Indonesia untuk membangun mosi tidak percaya kepada
masyarakat Internasional. Kalaupun ada, itu dilakukan oleh oknum
(pribadi) mungkin karena alasan atau kepentingan tertentu atas
permainan pihak tertentu, bukan perintah pimpinan TPN PB. Karena itu
sangat tidak masuk akal dan tidak dapat dipertanggung jawabkan jika dari
pihak Negara Indonesia dapat beranggapan bahwa TPN PB atau aktifis
Papua Merdeka itu identik dengan teroris.
Camkanlah bahwa
hukum anti terorisme itu baru saja dilahirkan bersamaan dengan
ancaman-ancaman terhadap fasilitas umum dan menakuti warga sipil,
seperti pemboman terhadap gedung raksasa di Amerika Serikat yang disebut
kantor pusat perekonomian dunia (WTC). Pasca pemboman gedung pencakar
langit itu, Amerika Serikat menyerukan perang terhadap terorisme. Disaat
yang sama pula Indonesia mendevinisikan terorisme sesuai kehendaknya
hanya sebagai tameng untuk kepentingan menjaga teritorial NKRI dan
ancaman keamanan serta ketertibaan umum.
Berikut ini saya
mengutip devinisi teroris menurut satuan Densus 88 yang dimuat dalam
pidato ibu Sidney Jones; ada dua macam kategori terorisme, yaitu
pertama, orang Islam radikal; kedua, orang separatis / nasionalis etno (www.crisisgroup.org/en/ publication-type/speeches/2013/ jones-papuan-separatists.aspx).
Devinisi teroris kategori kedua ini sangat aneh dan memalukan. Dengan
adanya devinisi kategori ke dua ini dapat melegitimasi Densus 88 dan
Tentara Nasional Indonesia (TNI) sedang berusaha untuk menumpas aktifis
Papua merdeka yang sudah berjuang lama sebelum devinisi teroris itu
dilahirkan. Ironis memang, tapi nyata bahwa langkah ini ditempuh RI
setelah metode-metode lain yang diterapkan selama ini gagal menumpas
gerakan pembebasan bangsa Papua. Tetapi apakah upaya RI untuk menerapkan
hukum anti terorisme di Papua akan berhasil?
Sesungguhnya Negara
Indonesia mengintropeksi diri sebelum menerapkan hukum anti terorisme di
Papua. Jika itu diterapkan di Papua, maka tindakan itu hanyalah menuai
kritik dan memalukan nama Indonesia dikancah masyarakat Internasional.
Mengapa saya katakan demikian? Masyarakat internasional telah tahu dan
paham bahwa perjuangan bangsa Papua itu bukan mengacaukan keamanan,
bukan makar/ separatis, bukan teroris yang menakuti warga sipil, tetapi
perjuangan bangsa Papua adalah untuk memulihkan kembali kemerdekaan
kedaulatan bangsa Papua yang dianeksasi secara sepihak ke dalam NKRI
pada tahun 1960 - an.
Masyarakat Internasional sudah tahu
bahwa sarang teroris itu hanya ada di wilayah-wilayah Indonesia tertentu
dibagian barat dan tengah yang berpenganut Islam Radikal yakni jihad.
III. TANGGAPAN MASYARAKAT INTERNASIONAL ATAS STIGMATISASI.
Taktik politik stigmatisasi Negara Indonesia kepada aktifis Papua
merdeka melahirkan berbagai kontro versi dikalangan masyarakat
Internasional. Secara umum ada tiga sikap muncul menyikapi stigmatisasi
itu, yakni: ada orang yang pro stigmatisasi artinya mendukung
stigmatisasi RI, dan ada juga orang yang kontra stigmatisasi artinya
menolak stigmatisasi RI. Dan ada orang yang mengambil sikap netral
(tidak juga pro, tidak juga kontra). Selain itu ada pula masyarakat
internasional yang sangat tidak tahu (buta) dengan penindasan yang
terjadi di Tanah Papua oleh Negara Indonesia.
Mengambil sikap
pro dan kontra serta sikap netral untuk menyikapi suatu hal dalam
dinamika kehidupan umat manusia di dunia adalah wajar dan biasa.
Masing-masing sikap dan tindakan: pro, kontra, dan netral yang
ditampilkan itu tentu memiliki latar-belakang pemahaman atas masalah dan
gerakan perjuangan bangsa Papua yang berbeda-beda.
Ada orang
yang mendukung stigmatisasi kepada aktifis Papua merdeka karena memang
watak dan karakternya anti penegakkan kebenaran, keadilan, kejujuran,
kedamaian, kebebasan, demokrasi, dan Hak Asasi Manusia. Ada pula orang
mendukung stigmatisasi RI kepada aktifis Papua merdeka, walaupun ia
tidak memahami baik latar belakang berbagai masalah di Tanah Papua,
tetapi karena dipengaruhi oleh Negara Indonesia melalui berbagai
kampanye dan lobi dalam forum-forum resmi dan non resmi di negara-negara
dan dalam forum PBB.
Mereka yang berhasil dipengaruhi oleh
RI, tentu memainkan peran ganda, di lain sisi mereka mempengaruhi
masyarakat dan negara asalnya untuk tidak mendukung perjuangan penentuan
nasib sendiri bagi bangsa Papua dan lain sisi mereka mempengaruhi
masyarakat Internasional di negara-negara di dunia melalui jaringan
kerja atau media cetak atau elektonik untuk tidak mendukung perjuangan
bangsa Papua untuk berdaulat penuh. Ada pula pendukung stigmatisasi
tertentu memberikan dukungan penuh kepada Negara Indonesia untuk
menumpas gerakan pembebasan Nasional Papua Barat.
Bagi
masyarakat Intenasional tertentu yang mendukung stigmatisasi kepada
aktifis Papua merdeka oleh Negara Indonesia yang dilegalkan melalui
produk hukum Indonesia, mereka itu secara sadar atau tidak sadar, secara
langsung maupun tidak langsung telah mendukung penuh upaya sistematis
dan terencana yang dipraktekkan oleh Indonesia untuk memarginalisasi,
mendiskriminasi, membuat ketidak-adilan, membuat orang Papua menjadi
minoritas di Tanah Papua, dan etnis Papua menjadi punah secara perlahan
tetapi pasti (slow motion genocide).
Sedangkan bagi masyarakat
Internasional yang kontra stigmatisasi (menolak stigmatisasi) kepada
para aktifis Papua merdeka adalah mereka yang memahami baik tentang akar
permasalahan dan penderitaan yang dialami oleh rakyat pribumi bangsa
Papua serta memahami baik tentang nilai-nilai universal dan Deklarasi
Umum Hak Asasi Manusia oleh PBB serta menegakkannya. Mereka bukan hanya
menolak stigmatisasi tanpa tindakan, tetapi diantara mereka, ada pula
yang mengorbankan tenaga, waktu, moril dan materilnya untuk mendukung
perjuangan rakyat bangsa Papua. Mereka ini masuk dalam kategori sayap
keempat, yakni sayap simpatisan. Mereka memperkuat tiga sayap perjuangan
Papua, yakni sayap sipil, militer dan diplomat.
Para
simpatisan melakukan berbagai bentuk aktifitas untuk menaikan publikasi
internasional dan mendesak pemerintahan asalnya serta PBB, juga
Pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah-langkah kongkrit guna
menyelesaikan masalah-masalah di Papua Barat. Keterpanggilan mereka
dalam mendukung perjuangan bangsa Papua adalah murni keterpanggilan
kemanusiaan. Tidak ada kepentingan lain, kecuali kepentingan untuk
menyelamatkan rakyat bangsa Papua dari diskriminasi, marginalisasi,
ketidak-adilan, minoritas dan kepunahan etnis Papua secara perlahan
tetapi pasti. Mereka bekerja tanpa pamrih, bekerja tanpa upah. Satu hal
yang tidak dapat diambil dari mereka yang menaruh hati bagi penderitaan
rakyat pribumi Papua adalah melalui sikap dan tindakan solidaritas itu,
mereka menaburkan benih-benih kebaikan dalam kebun kehidupannya
masing-masing.
Sementara itu ada pula masyarakat Internasional
yang memilih sikap netral. Sikap itu diambil karena ada beberapa
pertimbangan, antara lain: 1) Mungkin mereka tidak mau ambil resiko
karena setiap sikap pro atau kontra yang diambil tentu ada pengorbanan
(pengorbanan berupa materil maupun moril); 2) Mungkin tidak mau ambil
pusing karena tidak simpati dengan penindasan yang terjadi di Tanah
Papua; 3) mungkin juga tidak mau hubungan kerja sama antara mereka dan
RI tidak terganggu, artinya lebih mengutamakan kepentingan ekonomi dan
politik mereka, ketimbang mendukung gerakan Papua yang tidak memberi
manfaat secara langsung dalam kehidupan mereka; 4) mungkin juga karena
ada alasan lain.
Masyarakat Internasional yang tergolong dalam
kategori keempat yang tidak tahu tentang masalah darurat kemanusiaan
terselubung di Tanah Papua itu tentu terjadi karena mereka tidak
mengikuti dinamika kehidupan masyarakat global melalui media cetak
maupun elektonik. Dan ini tentu dilatar belakangi oleh beberapa faktor,
antara lain: 1) mungkin karena segala waktu difokuskan pada pekerjaan
dan rutinitas harian mereka; 2) Mungkin tidak tersedianya sarana
komunikasi, media cetak dan elektronik; 3) mungkin karena ada alasan
lain, seperti lanjut usia, cacat fisik, dan lain sebagainya.
Berikut ini saya menampilkan beragam tanggapan masyarakat internasional
terhadap stigmatisasi kepada aktifis Papua merdeka oleh Negara
Indonesia.
Stigmatisasi: makar, separatis, teroris, dan
sebagainya yang telah dilegalisasi dalam suatu produk hukum Indonesia
telah menuai kontro versi. Masyarakat Internasional yang kontra
stigmatisasi, baik secara individu atau lembaga, seperti Amnesti
Internasional, ETAN, HRW, Group-group pendukung di dunia, dan Dewan HAM
PBB telah berkali-kali mengecam Pemerintah Indonesia untuk menghentikan
stigmatisasi makar, separatis, teroris dll, menghentikan kekerasan dan
meminta pemerintah Indonesia menyelesaikan masalah-masalah Papua dengan
demokratis dan bermartabat.
Salah satu kampanye yang menguat
di masyarakat Internasional adalah terkait penerapan hukum makar di
Indonesia. Mereka medesak Negara Indonesia segera mencabut hukum
tertentu seperti hukum makar yang melegalkan tindakan sewenang-wenang
oleh aparat keamanan dan militer Indonesia terhadap rakyat sipil karena
sikap dan tindakan RI itu: 1) Mengabaikan nilai-nilai universal yang
dijunjung tinggi oleh umat manusia di dunia, seperti: demokrasi,
kebenaran, keadilan, kejujuran, kedamaian, Hak Asasi Manusia dan
kebebasan; 2) Melanggar prinsip-prinsip Dasar Deklrasi Umum Hak Asasi
Manusia oleh PBB dan kovenan-kovenan Internasional lainnya, seperti
Deklrasi Hak-Hak Dasar Masyarakat Pribumi, Kovenan Internasional tentang
hak-hak sipil dan politik; dan Kovenan Internasional tentang hak-hak
sosial budaya, ekonomi dan politik.
Salah satu kasus tuduhan makar
yang dijerat kepada tuan Filep J. S. Karma di mana beliau dipenjara
selama 15 tahun menjadi kasus yang sangat diseriusi oleh masyarakat
solidaritas Internasional. Para simpatisan melalui beberapa pengacara
hukum Internasional membawa kasus tuan Filep ke arbitrasi Internasional
di PBB. Sesuai keterangan dari tuan Filep bahwa gugatan ke arbitrasi
internasional itu dimenangkan oleh Filep pada tahun 2011 dengan
keputusan: Penahanan Filep J. S. Karma oleh Negara Indonesia adalah
penahanan sewenang-wenang (penahanan illegal) maka Pemerintah Indonesia
harus segera bebaskan tanpa syarat. Namun, sampai saat ini keputusan itu
tidak dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia. Tuan Filep masih di dalam
penjara Abepura.
Selain itu salah satu Pidato yang menuai
kontro versi adalah: Separatisme Papua vs Teroris Jihad: Dilema-Dilema
Kebijakan Indonesia. Pidato ini disampaikan oleh Ibu Sidney Jones dalam
program Kebijakan Internasional di Universitas Stanford Amerika Serikat
pada tanggal 05/12/2012 dan diperbaiki pada 22/01/2013 serta
dipublikasikan lewat internet: www.crisisgroup.org/en/ publication-type/speeches/2013/ jones-papuan-separatists.aspx
Dalam pidato ibu Jones itu membandingkan dua gerakan di Indonesia:
pertama gerakan Papua, yang beliau sebut: Separatis Papua; dan kedua,
gerakan jihad teroris. Jones mengatakan: kedua gerakan yakni Jihad
teroris dan gerakan orang Papua yang sedang berjuang untuk merdeka
membuat tindakan jahat yang mirip, walaupun mereka selalu dituduh dengan
pandapat berbeda. Dalam pidato itu ia berusaha menggali informasi dari
berbagai sumber untuk berusaha menyamakan aktifitas Pejuang Papua ke
dalam ranah teroris.
Berikut ini kutipan pidato dari ibu Jones:
Setahu saya, hingga sekarang belum ada upaya sistemnya untuk
mempromosikan kelepasan dari ikatan kekerasaan di Papua, walaupun
mungkinKAPOLDA akan baru memulai suatu program seperti itu nanti.
Pernyataan ibu Jones di atas, secara terselubung beliau mendukung upaya
tudingan teroris yang diungkapkan oleh Kapolda baru, Tito Karniavan
kepada aktifis KNPB. Sebaiknya Ibu Jones tidak secara langsung menuduh
gerakan Papua semirip teroris.
Ibu Jones tidak tahu siapa
sesungguhnya yang menciptakan kekerasan di Tanah Papua. Berikut ini
tanggapan Ed McWilliams: Khususnya di Papua Barat di mana rivalitas
polisi militer tentang akses pada sumber alam dan pemerasan sangat
terkenal. Sebaiknya Jones tahu pula bahwa militer, polisi dan
aparat-aparat inteligen Indonesia sudah lama sekali berperan sebagai
pelaku yang menimbulkan dan merekayasa tindakan kekerasaan untuk
mencapai tujuan-tujuan terselubung, demikian komentarnya.
Pernyataan ibu Jones seolah-olah pihak TNI dan POLRI tidak melakukan
kejahatan kemanusiaan terhadap orang asli Papua, padahal justru TNI dan
POLRI menjadi dalang dan pemicu kekerasan yang berkepanjangan di Tanah
Papua hanya demi mencapai kepentingan politik dan ekonomi semata. Untuk
mencapai kepentingan-kepentingan itu, berbagai skenario secara teratur,
rapih dan sistematis dimainkan oleh kaki tangan RI di Tanah Papua,
seperti yang terjadi dalam demonstrasi damai pada tanggal 16 Maret 2006
di Abepura yang berakhir bentrok dengan aparat polisi.
Kasus
ini murni didalangi dan dimainkan oleh aparat polisi dan intelijen
Indonesia bekerja sama dengan pihak tertentu yang menjadi mitra kerja
mereka. Di pihak polisi kasus ini mengakibatkan tiga brimob dan satu
militer TNI angkatan udara tewas serta beberapa polisi mengalami luka
berat dan ringan. Dan di pihak warga sipil, beberapa orang mengalami
luka tembak, selanjutnya polisi/brimob menggelar penyisiran brutal di
Abepura dan sekitarnya. Akibat penyisiran membabi buta oleh polisi itu
mengalami: pengrusakan fasilitas dibeberapa asrama mahasiswa, teror
intimidasi terhadap warga sipil, penangkapan sewenang-wenang, disertai
penyiksaan brutal akibatnya banyak orang mengalami luka berat dan
ringan.
Tragedi kelabu 16 Maret 2006 itu adalah skenario
tingkat tinggi yang dikemas secara teratur dan rapih oleh pihak aparat
dan intelijen Indonesia hanya untuk mencapai empat kepentingan, yakni:
1) Untuk meredam demonstrasi damai yang meluas dan menggema di
negara-negara dunia dengan tuntutan sentral: tutup PT Freeport Indonesia
di Timika- Papua, dan AS, RI dan Papua mengadakan dialog atau
perundingan; 2) Bagi pihak-pihak yang terlibat secara langsung dan tidak
langsung untuk meredam demonstrasi itu mendapatkan imbalan atau balas
jasa, antara lain berupa uang; 3) Untuk menaikan pangkat dan jabatan
bagi aparat Indonesia yang terlibat dalam meredam demonstrasi damai yang
meluas dan menggema itu; 4) Untuk membangun mosi tidak percaya dan
mendegragasikan perjuangan pembebasan bangsa Papua.
Pasca
tragedi itu, untuk mengelabui publik Internasional, aparat polisi dengan
sewenang-wenang menangkap seratus lebih orang Papua yang mayoritasnya
adalah mahasiswa. Dan hanya 24 orang saja dipenjara di Abepura dengan
hukuman berat paling tinggi 15 tahun. Mereka itu sebenarnya bukan pelaku
pembunuhan brimob dan militer dalam tragedi 16 Maret 2006 itu. Tetapi
demi melindungi dan menyembunyikan permainan aparat Indonesia, 24 orang
itu divonis bersalah dan dipenjara.
Jones sebagai senior
aktifis HAM sudah tahu bahwa selama ini Negara Indonesia tidak
memberikan akses bagi wartawan asing dan pekerja kemanusiaan asing masuk
ke Papua Barat untuk melihat dan mendengar langsung penderitaan dan
harapan hidup orang asli Papua. Ibu Jones mestinya bertanya: Kenapa
tidak memberikan akses bagi wartawan asing dan pekerja kemanusiaan asing
masuk ke Papua Barat, seperti tidak memberi ijin bagi pelapor khusus
PBB yang membidangi kebebasan berekspresi untuk datang ke Papua Barat
dan Ambon pada bulan Januari 2013? Jawabannya: Negara Indonesia takut
terbongkar segala bentuk penindasan terhadap orang asli Papua dan orang
Ambon-Maluku.
Nampaknya ibu Jones belum memahami baik tentang
latar belakang sejarah bangsa Papua yakni distorsi sejarah yang menjadi
akar permasalahan di Papua Barat. Ibu Jones juga belum melihat secara
langsung bagaimana orang Papua hidup dalam tekanan, intimidasi dan teror
dari TNI dan POLRI, ia pun belum melihat secara langsung bagaimana
orang asli Papua semakin dimarginalisasi, semakin didiskriminasi,
menjadi minoritas, mengalami ketidak-adilan, dibantai oleh TNI dan POLRI
melalui operasi militer terbuka maupun tertutup; akibat dari penindasan
RI dan para sekutunya itu, orang asli Papua saat ini sedang menuju
kepunahan etnis secara perlahan, tetapi pasti. Karena ibu Jones belum
melihat langsung dan belum mengalami betapa pahitnya penindasan RI
kepada orang asli Papua, maka itu dalam pidatonya ia berusaha memojokkan
perjuangan bangsa Papua untuk penentuan nasib sendiri dan berusaha
menyamakan gerakan pembebasan bangsa Papua dengan gerakan jihad teroris
di
Indonesia.
Dalam pidatonya, ibu Jones tidak
mengangkat segala bentuk pelanggaran HAM dan kejahatan kemanusiaan yang
dilakukan oleh Negara Indonesia kepada rakyat pribumi Papua sejak tahun
1962 sampai saat ini. Dari isi pidatonya, kami tahu bahwa ibu Jones
berusaha menyembunyikan segala bentuk penindasan RI dan berusaha
membangun mosi tidak percaya terhadap perjuangan rakyat bangsa Papua.
Ibu Jones sebagai senior dalam bidang HAM semestinya dengan jujur
mengungkapkan fakta-fakta penindasan dari Negara Indonesia dan para
sekutunya yang dialami oleh orang asli Papua. Dengan demikian saya
menilai bahwa dalam pidato itu ibu Jones memposisikan diri bukan sebagai
aktifis HAM, bukan juga sebagai ilmuwan, tetapi memposisikan diri
sebagai mitra kerja dari Negara Indonesia dan secara tidak langsung ibu
Jones mendukung segala bentuk penindasan RI kepada rakyat pribumi Papua
Barat.
Pidato yang dibuat Jones ini tergolong seruan atau
memotifasi kepada Negara Indonesia untuk meningkatkan penumpasan aktifis
Papua merdeka, yaitu dari penerapan hukum makar /separatis ditingkatkan
ke penerapan hukum anti terorisme, dan dengan demikian membunuh
penentuan nasib sendiri bagi bangsa Papua. Pidato itu ditanggapi juga
oleh Ed McWilliams, berikut ini kutipan tanggapannya: Seruan Jones untuk
Indonesia mendefinisikan seperatisme sebagai terorisme akan mengeraskan
usaha menargetkan suara para aktifis/kelompok yang menyampaikan dengan
damai tidak disetujui dan sekaligus meningkatkan intimidasi terhadap
orang Papua secara umum, demikian komentarnya.
Dalam pidato
itu ada sisi lain yang penting dihargai. Saya selaku tahanan politik
Papua yang saat ini berada dalam Penjara Abepura, saya memberikan
apresiasi kepada ibu Jones karena melalui pidato itu memberikan
peringatan dini kepada para aktifis Papua Merdeka untuk menghindari
skenario besar secara terselubung yang didorong oleh RI untuk menumpas
gerakan pembebasan Papua Barat dengan meningkatkan dari status separatis
ke status teroris. Selain itu, di sisi lain pidato ibu Jones juga
memberikan masukan bagi Indonesia untuk tidak menggunakan hukum anti
terorisme. Berikut ini komentar ibu Jones: Salah satu solusinya adalah
untuk tidak menerapkan hukum anti-terorisme di Papua, dan juga untuk
berhenti menggunakan hukum itu terhadap para jihad yang membuat
kejahatan yang pada pokoknya tidak merupakan tindakan dengan sengaja
yang bertujuan menciptakan ketakutan, yaitu berbagai tindakan yang bisa
dihukum dengan menerapkan hukum lain termasuk kode hukum
kriminal untuk kejahatanseperti pembunuhan, perampokan dan sergapan, demikian pernyataannya.
IV. DAMPAK STIGMATISASI YANG DILEGALKAN DALAM HUKUM RI.
Berbagai stigmatisasi oleh RI kepada aktifis Papua merdeka yang
dilegalkan dalam produk hukum Indonesia telah melemahkan perjuangan
bangsa Papua, namun pada saat yang sama pula mengobarkan semangat
perjuangan Pembebasan Papua Barat dan meningkatkan dukungan solidaritas
masyarakat Internasional.
Stigmatisasi yang dilegalisasi
melalui produk hukum seperti hukum makar itu di lain sisi dapat membunuh
psikologis orang asli Papua untuk berjuang, berusaha membungkam suara
kebebasan, berupaya mendegradasikan gerakan perlawanan dan menumpas
aktifis Papua merdeka, banyak orang Papua dibunuh, banyak orang Papua
menderita, banyak materi korban, banyak orang Papua mengungsi ke
negara-negara lain, penangkapan sewenang-wenang, pemenjaraan, membangun
mosi tidak percaya kepada masyarakat internasional agar menurunkan
dukungan mereka atas Papua, tetapi pada sisi lain menumbuhkan
nasionalisme kebangsaan Papua, membangkitkan keberanian untuk
memperjuangkan pembebasan Papua dan meningkatkan simpati masyarakat
internasional. Negara Indonesia berpikir bahwa dengan melakukan tindakan
sewenang-wenang, orang asli Papua akan berhenti berjuang, namun
anggapan ini tidak berhasil dan Negara Indonesia telah gagal total
meng-indonesia-kan orang asli Papua.
Dalam sejarah perjuangan
bangsa-bangsa di dunia yang sudah berdaulat penuh (merdeka), yang
namanya ideologi pembebasan nasional itu tidak pernah musnah. Ideologi
itu mengalir dalam darah nadi dari generasi ke generasi. Sepanjang
generasi penerus ideologi itu masih ada, maka selama itu pula ideologi
pembebasan nasional itu tetap mengalir dalam darah nadi setiap generasi
penerus. Karena itu istilah para penguasa Negara mana pun untuk menumpas
ideologi sampai ke akar-akarnya tidak pernah berhasil. Ideologi itu
akan musnah, apabila tidak ada generasi yang dapat meneruskan ideologi
para pendahulunya.
Demikian pula perjuangan bangsa Papua untuk
berdaulat penuh (merdeka). Sepanjang masih ada penerus ideologi
pembebasan nasional Papua, maka selama itu pula ideologi Papua merdeka
terus mengalir dalam darah nadi orang asli Papua. Ideologi Pembebasan
Nasional itu musnah, apabila etnis Papua musnah dari muka bumi ini.
Negara Indonesia melalui sistemnya dapat membunuh orang Papua satu
persatu melalui berbagai operasi terbuka dan tertutup, tetapi RI tidak
akan pernah membunuh ideologi Pembebasan Nasional Papua Barat. Negara
Indonesia melalui TNI dan POLRI menangkap dan memenjara orang asli Papua
satu persatu, tetapi RI tidak akan pernah memenjara semangat
nasionalisme. Negara Indonesia dapat memaksa menerapkan Paket Politik
Undang-undang Otonomi Khusus di Tanah Papua sebagai tawaran untuk tetap
berada dalam NKRI, tetapi Otonomi Khusus itu tidak akan pernah
menawarkan hati dan tidak melemahkan orang asli Papua untuk berjuang
kebebasan total. Berbagai operasi militer ditempuh untuk meredam
perjuangan bangsa Papua, tetapi moncong senjata polisi dan militer
Indonesia tidak pernah meredam suara kebebasan bangsa Papua.
Dari sejak tahun 1962 sampai tahun 1998 rakyat bangsa Papua berada
dibawah kekuasaan tangan besi (rejim Soekarno di jaman orde lama dan
rejim Soeharto di jaman orde baru) dilarang untuk melakukan aktifitas
Papua Merdeka apa pun; mengucapkan kata Papua saja ditumpas dengan
tangan besi. Tetapi di era itu pun nasionalisme kebebasan nasional Papua
tumbuh subur, apalagi mulai era reformasi sejak tahun 1998 bersamaan
dengan penggulingan resim tangan besi (alm Soeharto), nasionalisme
kebebasan Papua yang disumbat, krans itu terbuka dan kini nasionalisme
kebebasan itu telah mengalir ke berbagai penjuru dunia. Nasionalisme
kebebasan Bangsa Papua itu tumbuh subur di atas air mata darah,
nasionalisme itu terbangun kokoh di atas tulang belulang para pejuang
pendahulu Bangsa Papua, dan jalan setapak menuju kebebasan nasional
Papua Barat yang dirintis para pejuang pendahulu itu, kini makin meluas
dan semakin hari semakin permanen.
V. KIAT-KIAT MENGHADAPI STIGMATISASI.
Tidak ada cara lain untuk menghadapi stigmatisasi RI yang dilegalkan
dalam produk hukum jikalau orang asli Papua tidak menempuh dengan jalan
perlawanan apa pun resiko. Apa pun jenis stigma yang dilabelkan pada
orang Papua, apa pun hukum yang mengekang kebebasan berekspresi, apa pun
tindakan sewenang-wenang yang membatasi kebebasan berpendapat orang
asli Papua, apa pun produk hukum yang melarang kebebasan berorganisasi
dan berkumpul, apa pun hukum yang melegalkan untuk menumpas perjuangan
penentuan nasib sendiri bangsa Papua, saya katakan tidak ada jalan lain,
kecuali orang asli Papua tempuh melalui jalan perlawanan. Ingat: jangan
sampai orang asli Papua lupa bahwa dalam kongres bangsa Papua kedua
pada tahun 2000 rakyat pribumi Papua telah memutuskan bahwa mengawal
perjuangan kebebasan bangsa Papua dengan JALAN DAMAI (non violent).
Camkanlah bahwa tidak ada kata menyerah dan tidak ada kata tunduk
kepada rejim penjajah mana pun dalam kamus revolusi pembebasan nasional.
Slogan yang terukir dalam kamus revolusi pembebasan bangsa adalah: maju
pantang mundur, maju tak gentar untuk menghalau rejim penjajah guna
menegakkan keadilan, kebenaran, kejujuran, demokrasi, Hak Asasi Manusia
dan menciptakan damai sejahtera di bumi seperti di Surga.
Ada
banyak cara perlawanan yang kita dapat tempuh sesuai dengan jalan yang
kita pilih melalui jalan damai, selain itu kita juga menghargai jalan
yang ditempuh oleh sayap militer (TPN PB). Karena pilihan utama jalan
politik kita melalui jalan damai, maka itu kita harus memanfaatkan dan
memaksimalkan kekuatan-kekuatan yang ada pada kita.
Kekuatan
utama kitaadalah berada pada kedaulatan rakyat bangsa Papua. Kekuatan
itu kita belum bangkitkan secara menyeluruh di bawah satu komando untuk
satu tujuan, di bawah satu wadah politik yang menjadi kendaraan politik
bersama, dan dibawah satu konsep ideologi perjuangan serta agenda-agenda
strategis dan program kerja bersama. Melalui kendaraan politik bersama
dibawah satu kepemimpinan politik sentral dapat mengkoordinasikan ketiga
sayap yang ada, yakni sayap sipil, sayap militer, sayap diplomat; dan
juga mengembangkan jaringan solidaritas atau kata lain mitra kerja
dengan para simpatisan solidaritas masyarakat internasional sebagai
sayap keempat.
Melalui organisasi yang tertata rapi dan
jaringan solidaritas yang ada, kita meningkatkan kerja-kerja politik
untuk memutuskan mata rantai penindasan RI dan para sekutunya melalui
dua solusi final, yakni pilihan pertama dan terutama adalah pengakuan
kemerdekaan kedaulatan bangsa Papua secara de jure; dan pilihan kedua
adalah refrendum ulang.
Posisi tawar tertinggi bangsa Papua
berada pada hasil Kongres Bangsa Papua ketiga. Kenapa saya katakan
demikian? Saya hanya melihat dari sisi kekuatan demokrasi, kekuatan
politik dan kekuatan hukum yang lahir dalam Kongres Bangsa Papua ketiga.
Rakyat bangsa Papua yang datang mensukseskan kongres itu adalah
kekuatan demokrasi. Kongres itu adalah sarana untuk berkumpul,
berdiskusi, menyampaikan pendapat dan menyepakati serta memutuskan apa
yang dikehendaki bersama; itulah kekuatan demokrasi. Dan apa saja yang
dilahirkan dalam Kongres Bangsa Papua ketiga sebagai forum demokrasi
tertinggi bangsa Papua itulah kekuatan politik dan kekuatan hukum. Maka
itu mari kita kompromi politik internal bangsa Papua untuk bersatu dalam
satu konsep ideologi perjuangan, agenda strategis-program kerja
bersama, bersatu dalam satu organisasi sentral yang menjadi kendaraan
politik bersama, dan bersatu dalam kepemimpinan sentral yang diterima
dan diakui bersama agar kita menjadi
kuat menuju mekanisme internasional. Ketika kita bersatu, maka kita akan kuat untuk menuju kemenangan akhir.
Sesungguhnya Negara Indonesia secara politik sudah kalah, karena dalam
Kongres Bangsa Papua ketiga kita sudah tutup dengan JOKER yaitu
Deklarasi pemulihan kemerdekaan kedaulatan bangsa Papua dan berdirinya
Negara Federal Republik Papua Barat (NFRPB) pada tanggal 19 Oktober 2011
di Lapangan Zakeus Padang Bulan - Abepura - Jayapura - Papua Barat.
Kekuatan demokrasi, politik dan hukum telah terpenuhi dalam hasil
Kongres Bangsa Papua ketiga, maka itu sekarang mari kita kompromi
politik internal bangsa Papua dan mengawal itu untuk mendapatkan
pengakuan secara de jure dan peralihan kekuasan adminitrasi pemerintahan
dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ke Negara Federal
Republik Papua Barat (NFRPB). Ini hanyalah bersifat tawaran saja, saya
tidak memaksa siapa pun; dan pada prinsipnya saya menghormati posisi
Anda masing-masing dan menghargai semua upaya yang ditempuh oleh semua
komponen bangsa Papua untuk memutuskan mata rantai penindasan RI dan
para
sekutunya.
Jika kita tidak kompromi politik internal
bangsa Papua, maka silahkan kita mencari jalan lain yang terbaik, yang
dikehendaki oleh semua komponen bangsa Papua.
Camkanlah bahwa
banyak orang asli Papua menderita, banyak orang Papua dibantai,
dimarginalisasi, orang Papua menjadi minoritas, didiskriminasi, banyak
orang Papua mengungsi ke negara lain, banyak orang Papua ditangkap dan
dipenjara, jadi jangan kita bertahan pada posisi masing-masing yang
mengakibatkan menunda kemerdekaan kedaulatan penuh bagi bangsa Papua di
negeri Papua Barat dan akhirnya memperpanjang penindasan oleh RI dan
para sekutunya kepada orang asli Papua Barat.
Terkait dengan
tudingan teroris, kita tidak perlu takut, tetapi kita waspada dan
menghindari tindakan-tindakan tertentu yang melegitimasi RI untuk
meningkatkan operasi dari status separatis menjadi status teroris. Untuk
itu kita tingkatkan kampanye dan lobi melalui jaringan yang ada untuk
meyakinkan kepada masyarakat Internasional bahwa tudingan teroris kepada
aktifis Papua merdeka itu adalah upaya NKRI untuk meredam perjuangan
luhur bangsa Papua. Perlu kita tahu bahwa cara-cara lain untuk
menghadapi perjuangan bangsa Papua sudah gagal total seperti penerapan
hukum makar, maka kini Negara Indonesia sedang berancang-ancang
meningkatkan penerapan hukum anti terorisme di Tanah Papua.
Selama ini RI menggunakan slogan: Perang Melawan Separatis Papua, dan
ternyata itu sudah gagal total, maka RI hendak mau ganti dengan slogan:
Perang Melawan Teroris Papua. Tetapi kasihan, upaya RI bagaikan
menyaring angin, pasti akan gagal total sampai Negara Indonesia akan
angkat kaki dari tanah Papua dengan kepala tertunduk malu, sama seperti
Negara Indonesia mengangkat kaki dari Tanah Timor Timur pasca kemenangan
refrendum bagi rakyat Timor Timur, di mana pada saat itu polisi dan
militer Indonesia dipukul mundur oleh pasukan PBB yang dipimpin
pasukan/tentara elit dari Australia pada tahun 1999. Sebaliknya, jika
Negara Indonesia dengan lapang dada mengakui kemerdekaan kedaulatan
bangsa dan Negara Papua dengan bermartabat dan selanjutnya mengatur
kerja sama di antara dua bangsa dan dua negara yang setara, maka negara
Indonesia akan mengangkat kaki dari tanah Papua dengan kepala terangkat
dan akan mendapat penghargaan yang setinggi-tingginya dari
masyarakat Internasional; dan saya yakin rencana pemberian Nobel
Perdamaian dunia pasca perjanjian damai RI dengan Aceh di Helsingky
kepada presiden RI (SBY) yang telah tertunda akan terwujud. Dengan
demikian, nama Indonesia menjadi harum dan terhormat di dunia
Internasional.
PESAN PENUTUP.
Akhir dari tulisan ini, saya menyampaikan berapa pesan kepada beberapa pihak, antara lain:
1). Kepada Negara Indonesia, saya mengucapkan selamat berjuang
mempertahankan Tanah Papua dalam bingkai NKRI dengan cara-cara kotor dan
tidak beradab, tetapi saya ingin katakan bahwa segala upaya Negara
Indonesia bagaikan menyaring angin ( tidak akan pernah berhasil); karena
perjuangan bangsa Papua adalah perjuangan untuk menegakkan keadilan dan
kebenaran, perjuangan untuk menegakkan jati diri setiap pribadi dan
jati diri bangsa Papua sama seperti bangsa-bangsa merdeka lain di dunia,
maka itu saya yakin bahwa perjuangan kebenaran dan keadilan bangsa
Papua itu akan keluar sebagai pemenang akhir.
2). Kepada siapa pun
para simpatisan masyarakat Internasional yang memberi perhatian bagi
penderitaan rakyat pribumi Papua, Anda semua adalah bagian dari hidup
kami, dan bagian dari sejarah perjuangan Papua Barat. Segala pengorbanan
Anda terukir abadi dalam jejak langkah perjalanan bangsa Papua dari
generasi ke generasi. Anda semua adalah sahabat dan saudara-saudari
kami. Pengorbanan Anda semua adalah bentuk dukungan solidaritas secara
nyata untuk menciptakan damai sejahtera di bumi seperti di Surga,
khususnya di Tanah Papua. Anda adalah pencinta kebenaran dan keadilan
untuk semua; Anda adalah pencinta kedamaian dan kebebasan untuk semua.
Tidak ada kata terindah yang kami dapat mengukirkan pengorbanan para
simpatisan solidaritas masyarakat Internasional di mana saja Anda
berada, tidak ada barang terindah dan termahal yang dapat membalas
kebaikan Anda kepada rakyat pribumi Papua. Hanyalah rasa terima kasih
dari lubuk hati yang paling dalam yang kami
ucapkan kepada setiap
para simpatisan solidaritas masyarakat Internasional yang menaruh hati
dan yang mendukung kami secara langsung dan tidak langsung bagi
pembebasan bangsa Papua dari kemelut penindasan RI dan para sekutunya.
Dengan rasa hormat yang amat mendalam dan dari lubuk hati yang paling
dalam, kami pesan kepada Anda semua teruslah menaburkan benih-benih
kebaikan dalam kebun kehidupan Anda dengan jalan mendukung kami dengan
sumbangan moril dan materil menuju penyelesaian status politik dan hukum
bagi bangsa Papua di negeri Papua Barat melalui: jalur perundingan;
jalur hukum atau jalur dekolonisasi/politik untuk mencapai dua solusi
final yaitu pilihan pertama dan terutama adalah pengakuan secara de jure
dan atau pilihan kedua: refrendum ulang.
3). Saya mohon Anda dapat
menyebarkan artikel ini kepada sesama aktifis Papua Merdeka dan para
simpatisan solidaritas masyarakat Internasional di manca negara melalui
email, face book, dan media sosial lainnya agar dapat memahami isinya
dan ditindak-lanjuti agar tidak terjebak dalam skenario besar yang
dikemas rapi dan sistematis yang sedang dibangun oleh NKRI melalui
mesin-mesin pertahanannya dan dengan atas kerja sama para sekutunya
diberbagai manca negara untuk mengiring perjuangan bangsa Papua ke ranah
teroris, yang akhirnya dapat berdampak buruk pada perjuangan luhur
bangsa Papua menjadi musuh dunia dan masuk dalam kotak alias tidak
mendapat simpati masyarakat internasional. Kita intropeksi diri dan kita
mengawal perjuangan bangsa Papua dengan arif, bijaksana, cerdas,
bermartabat dan bertanggung jawab untuk mencapai ke tujuan utama
perjuangan kita, yakni kebebasan total.
Sekian dan terima kasih.
Persatuan Tanpa Batas Perjuangan Sampai Menang.
(Penulis: Selpius A. Bobii, Ketua Umum Front Persatuan Perjuangan
Rakyat Papua Barat, juga sebagai tahanan politik di Penjara Abepura -
Jayapura - Papua Barat).
Judul: POLITIK STIGMATISASI PADA PERJUANGAN RAKYAT PRIBUMI PAPUA BARAT: Suatu Upaya RI Untuk Membunuh Penentuan Nasib Sendiri Bagi Bangsa Papua
Syalom. Ada kirim artikel menyikapi tudingan teroris oleh Kapolda Papua dan menyikapi Pidato ibu Sidney Jones. Harap dipahami isinya dan mohon meneruskan artikel ini lewat email kepada sesama aktifis Papua dan simpatan di manca negara serta dinaikan ke face book atau media sosial yang lain. Terima kasih. Judul Artikel: POLITIK STIGMATISASI PADA PERJUANGAN RAKYAT PRIBUMI PAPUA BARAT: Suatu Upaya RI Untuk Membunuh Penentuan Nasib Sendiri Bagi Bangsa Papua
Oleh: Selpius A. Bobii
25 Februari 2013
"Kami heran bahwa Kapolda Papua baru menjabat langsung tuduh KNPB adalah teroris, nah ini bagian dari pengacau keamanan, ini sangat keterlaluan, komentar Socratez S. Yoman, Ketua Umum Persekutuan Gereja- Gereja Baptis Papua. (Sumber: Bintang Papua, Jumat, 25 Januari 2013, hal. 3).
Tanggapan tokoh Gereja Papua, Socratez S. Yoman, S.Th. M.A menyikapi tudingan teroris oleh Kapolda Papua kepada aktifis Papua (Komite Nasional Papua Barat) adalah merupakan suara gereja menolak tegas tudingan teroris oleh Negara Indonesia melalui Kapolda Papua. Tanggapan tokoh Gereja itu juga menyatakan kepada Negara Indonesia dan negara-negara di dunia serta Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa orang Papua bukan teroris, orang Papua bukan Makar, orang Papua bukan separatis, orang Papua bukan pengacau keamanan, orang Papua tidak merong-rong keutuhan NKRI.
Dalam artikel ini, saya menyoroti beberapa pertanyaan fundamental yaitu: 1). Mengapa Negara Indonesia menstigmatisasi perjuangan bangsa Papua dengan tudingan: separatis, makar, pengacau keamanan, teroris, dll?;
2). Mengapa orang Papua bukan teroris, orang Papua bukan Makar, orang Papua bukan separatis, orang Papua bukan pengacau keamanan, orang Papua tidak merong-rong keutuhan NKRI?
3). Bagaimana tanggapan masyarakat Internasional atas tudingan Pengacau Keamanan, Makar / Separatis, teroris, dll kepada orang asli Papua?
4). Apa dampak stigmatisasi Pengacau keamanan, makar / separatis, teroris oleh RI terhadap perjuangan rakyat bangsa Papua?
5). Bagaimana siasat menghadapi stigmatisasi terhadap orang Papua yang digencarkan oleh Negara Indonesia melalui sistemnya?
Kelima pertanyaan mendasar ini, saya uraikan satu persatu dalam artikel ini.
I. PEMBUNGKAMAN PERJUANGAN BANGSA PAPUA MELALUI STIGMATISASI.
Strategi dan taktik politik stigmatisasi yang digencarkan oleh Negara Indonesia melalui sistemnya terhadap aktifis Papua Merdeka adalah merupakan suatu langkah menutupi segala bentuk kejahatan kemanusiaan terhadap orang Papua dan sebagai langkah pembenaran untuk menumpas orang asli Papua yang berjuang untuk kedaulatan Papua Barat.
Ada tiga bentuk kejahatan kemanusiaan, yakni: Aneksasi kemerdekaan kedaulatan suatu bangsa; Kejahatan Perang, dan Pemusnahan etnis. Negara Indonesia telah dan sedang melakukan tiga kategori kejahatan kemanusiaan ini. Setelah Negara Indonesia berhasil menganeksasi kemerdekaan kedaulatan bangsa Papua melalui invasi politik dan militer yang dimulai dengan Maklumat Tri Komando Rakyat (TRIKORA) oleh Presiden RI (Soekarno), 19 Desember 1961, Negara Indonesia masih terus menerus menerapkan operasi militer, baik secara terbuka dan terselubung (perang terbuka dan tertutup), yang berdampak pada pemusnahan etnis Papua secara pelan tapi pasti (slow motion genocide).
Salah satu stigmatisasi yang muncul pada akhir-akhir ini adalah tudingan teroris kepada para aktifis Papua Merdeka, khususnya kepada aktifis Komite Nasional Papua Barat (KNPB).
Berikut ini tingkatan stigmatisasi dari Negara Indonesia kepada orang asli Papua yang berjuang untuk berdaulat penuh, yaitu: pertama-tama RI menyebut Organisasi Papua Merdeka (OPM), Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) / Gerakan Pengacau Lingkungan (GPL), Separatis atau Makar, Orang Tak Kenal (OTK), Sipil bersenjata, dan Teroris.
Sebutan Organisasi Papua Merdeka (OPM) dilabelkan oleh Negara Indonesia kepada orang Papua yang mengambil sikap untuk berjuang kemerdekaan Papua Barat. Menurut tuan Forkorus Yaboisembut S.Pd orang asli Papua menerima sebutan OPM setelah mempertimbangkannya dan ternyata sebutan OPM itu tepat dan benar. Kini OPM telah menjadi sebuah organisasi perlawanan yang menyatu dalam wadah TPN PB (Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat) yang struktur dan manajemen telah ada, walaupun belum ada komando terpusat.
Sebutan Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) / GPL adalah sebutan kedua yang dimunculkan Negara Indonesia. Dengan adanya sebutan ini membenarkan tindakan penumpasan (operasi militer)terhadap orang asli Papua yang berjuang untuk berdaulat penuh. Juga melalui berbagai forum resmi dan non resmi Republik Indonesia (RI) meyakinkan kepada masyarakat Internasional bahwa di Papua ada Gerakan Pengacau Keamanan. Dengan demikian meredam dukungan masyarakat Internasional soal status politik bangsa Papua.
Stigmatisasi berikutnya adalah Makar atau Separatis kepada aktifis Papua Merdeka oleh Negara Indonesia. Stigmatisasi itu dilegalisasi dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yakni pasal 106 - 110 KUHP. Produk Hukum yang ditinggalkan oleh Kerajaan Belanda ini, dalam penerapannya telah memakan korban nyawa rakyat sipil dan materi dalam jumlah sangat banyak.
Pasal-pasal makar dalam KUHP ini sebagai upaya pembenaran dan melegalkan operasi-operasi militer secara terbuka dan tertutup untuk menumpas gerakan pembebasan nasional Papua Barat, penangkapan dan pemenjaraan sewenang-wenang oleh RI. Pengorbanan moril dan materil yang dialami oleh rakyat bangsa Papua tidak dapat dibayangkan dan tak dapat dilukiskan dalam tulisan ini. Dan lebih mengerikan adalah pengorbanan nyawa rakyat bangsa Papua dalam jumlah banyak akibat operasi militer terbuka dan tertutup, serta operasi sipil. Singkatnya, stigmatisasi makar atau separatis yang dilegalkan dalam KUHP adalah sebagai tameng untuk melindungi diri dari berbagai kecaman dari masyarakat Internasional atas tindakan kejahatan kemanusiaan kepada orang asli Papua hanya demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Orang Tak Kenal (OTK) adalah istilah yang dimunculkan aparat polisi dan militer Indonesia untuk menunjuk pelaku penembakan yang tidak diketahui identitasnya. Menurut Agus Sananay Kraar (Tahanan Politik Papua di penjara Abepura) bahwa istilah OTK ini melahirkan multi tafsir, apakah dilakukan oleh pihak Papua atau pihak Indonesia; dan dapat mengarah pada kambing hitam kepada orang Papua, saling tuduh menuduh pun terjadi. Selain itu, ada istilah lain yang digunakan adalah kelompok sipil bersenjata dan juga manusia bertopeng.
Stigmatisasi kepada aktifis Papua Merdeka yang paling terakhir adalah tudingan Teroris. Tudingan ini bukan tiba waktu tiba akal, tetapi ini sebuah skenario besar Negara Indonesia yang sudah lama dirancang untuk menterorisasi perjuangan bangsa Papua dalam upaya membunuh nasionalisme Papua Merdeka, dengan demikian memperpanjang penindasan dan gerakan aktifis Papua Merdeka menjadi musuh dunia. Upaya terorisasi perjuangan bangsa Papua oleh Negara Indonesia melalui sistemnya adalah langkah Indonesia untuk meningkatkan status operasi-operasi militer, baik secara terbuka dan tertutup karena upaya-upaya lain yang selama ini diterapkan oleh RI di Papua Barat tidak membuahkan hasil yang signifikan.
Berbagai rekayasa dilakukan Negara Indonesia untuk membuat mosi tidak percaya kepada masyarakat Internasional. Dengan jalan ini membunuh dukungan masyarakat Internasional terhadap perjuangan bangsa Papua. Berikut ini saya mengutip pernyataan Ed McWilliams: Tuduhan tindakan-tindakan kriminal oleh beberapa anggota KNPB tidak dibenarkan dengan kuat dan biasanya RI berupaya untuk menjelekkan nama organisasinya. KNPB dan banyak organisasi lain di Papua maupun setiap pribadi memang sedang mendorong untuk hak orang Papua diakui, khususnya hak menentukan nasib sendiri yang sudah sangat lama tidak diakui. Tetapi semua usaha ini secara umum dilakukan tanpa kekerasaan, demikian komentarnya. Artikel tuan Ed McWilliams lengkapnya silahkan Anda kunjungi: www.westpapuamedia.com artikelnya dinaikan pada tanggal 2 Februari 2013.
II. ORANG PAPUA BUKAN MAKAR, BUKAN TERORIS, DLL.
Akar masalah Papua Barat bukan masalah makan minum artinya bukan masalah kejahteraan, bukan masalah pendidikan, bukan juga masalah kesehatan, tetapi akar masalah Papua adalah hak kemerdekaan kedaulatan bangsa Papua yang telah dianeksasi ke dalam NKRI secara sepihak melalui invasi politik dan militer atas dukungan penuh Amerika Serikat. Rakyat bangsa Papua berjuang hanya untuk memulihkan kembali kemerdekaan kedaulatan bangsa Papua yang dianeksasi ke dalam NKRI dengan sewenang-wenang.
Fakta membuktikan bahwa justru negara Indonesia dapat dikategorikan ke dalam pengacau keamanan (pengacau lingkungan), makar/separatis, mendirikan negara dalam negara, merong-rong kedaulatan Papua Barat dan sarang teroris. Berikut ini penjelasan ku untuk membuktikan pernyataan di atas:
1). Siapa yang sebenarnya pengacau keamanan? Justru yang mengacaukan keamanan di Tanah Papua adalah negara Indonesia yang telah menganeksasi kemerdekaan kedaulatan bangsa Papua ke dalam NKRI melalui Maklumat Tri Komando Rakyat (TRIKORA) oleh Presiden RI, Soekarno, pada tanggal 19 Desember 1961, yang selanjutnya diwujudkan melalui invasi militer dan politik, yang berpuncak pada Penentuan Pendapat Rakyat Papua pada tahun 1969 yang kita sebut Cacat Hukum dan Moral. Dalam proses aneksasi itu didukung penuh oleh Amerika Serikat hanya untuk mencapai kepentingan ekonomi dan politik semata. Justru negara Indonesia melalui mesin-mesinnya mengacaukan keamanan di Tanah Papua untuk mempertahankan Tanah Papua dalam bingkai NKRI yang telah dianeksasi dengan cara-cara kotor dan tidak beradab.
2). Siapa pembuat makar sesungguhnya? Justru Negara Indonesia yang melakukan makar atas kemerdekaan kedaulatan bangsa dan Negara Papua. Sejak tahun 1962 Negara Indonesia meningkatkan Invasi politik dan militer untuk mewujudkan Maklumat Tiga Komando Rakyat (TRIKORA) oleh Presiden RI. Aneksasi kemerdekaan kedaulatan bangsa Papua ke dalam NKRI adalah tindakan makar yang dilakukan oleh Negara Indonesia. Karena itu tudingan makar dari RI kepada orang Papua yang berjuang untuk pembebasan bangsa Papua tidak dapat dibenarkan.
3). Siapa sebenarnya yang mendirikan negara dalam negara? Yang mendirikan negara dalam negara adalah justru Negara Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dalam maklumat Tri Komando Rakyat oleh Prisiden RI, Soekarno dalam point pertama menyatakan: Bubarkan negara boneka Papua buatan kolonial Belanda. Dalam point ini mengandung tiga hal penting, yakni: a). Negara Indonesia telah mengakui adanya negara Papua Barat; b). Tapi Negara Papua Barat itu dihina sebagai negara boneka; c). Negara Papua Barat itu harus dibubarkan. Camkanlah bahwa pengakuan presiden Indonesia adanya negara Papua dalam maklumat TRIKORA itu sah dan mengikat. Dan di sisi lain maklumat TRIKORA itu adalah bukti outentik adanya aneksasi Negara dan Bangsa Papua ke dalam NKRI.
4). Siapa sebenarnya yang merong-rong kedaulatan? Tudingan merongrong kedaulatan NKRI oleh Negara Indonesia sangat tidak tepat ditujukan kepada rakyat bangsa Papua yang sudah dan sedang serta akan berjuang untuk memulihkan hak-hak dasarnya, terutama hak fundamental yakni hak kesulungan rakyat bangsa Papua (kemerdekaan kedaulatan) yang telah dianeksasi ke dalam NKRI dengan sewenang-wenang. Jusrtu negara Indonesia telah berhasil merong-rong kedaulatan Papua Barat dan berhasil aneksasi bangsa Papua Barat ke dalam NKRI. Camkanlah bahwa orang asli Papua berjuang bukan untuk menganeksasi atau mencaplok tanah Jawa, Tanah Sulawesi, Tanah Madura, dan lain lain, tetapi bangsa Papua berjuang untuk tanah leluhurnya berdaulat penuh (merdeka) sama seperti bangsa-bangsa merdeka lain di dunia. Jadi orang asli Papua tidak sama sekali merong-rong kedaulatan Tanah-Tanah lain di Indonesia. Orang asli Papua berjuang untuk hak-hak dasarnya diakui dan dikembalikan, seperti
hak kemerdekaan kedaulatan bangsa Papua, yang dijamin oleh konstitusi NKRI pada pembukaan Undang-undang Dasar 1945 pragraf pertama dan hukum Internasional.
5). Siapa penganut teroris sesungguhnya? Istilah teroris tidak ada dalam perjalanan hidup bangsa Papua. Nenek moyong bangsa Papua tidak pernah mempraktekkan dan mengajarkan kepada anak cucuhnya untuk meneror disertai dengan pembunuhan warga sipil dengan sewenang-wenang. Walaupun ada perang suku di Papua, tetapi kedua belah pihak tunduk dan taat pada tata cara perang suku yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Bukan perang dengan sewenang-wenang seperti yang dilakukan oleh militer dan polisi Indonesia di mana dalam operasi militer memperkosa, mencuri, membakar rumah-rumah warga sipil, mengusir warga sipil dari perkampungan, membunuh anak-anak dan istri dari pihak lawan dengan brutal; serta mengadu domba suku-suku setempat untuk saling membunuh dan hal itu digunakan oleh Negara Indonesia sebagai bahan kampanye bahwa itu adalah perang suku.
Dalam perjuangan bangsa Papua pun, para aktifis Papua Merdeka tidak pernah menerapkan tindakan teror kepada warga sipil. Yang ada adalah gerakan perjuangan pembebasan nasional Papua dengan menempuh cara-cara damai dan tentang hal ini ditetapkan dalam Kongres Bangsa Papua pada tahun 2000. Aktifis Papua merdeka tidak pernah menggunakan bom untuk menarik simpati internasional atau menakuti warga sipil.
Aksi perlawanan oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN PB) dirimba raya Papua yang seringkali kontak senjata dengan Polisi dan militer Indonesia adalah hal yang biasa dalam perjuangan pembebasan nasional di mana pun di dunia yang pernah berjuang untuk merdeka. Dengan adanya kontak senjata itu, TPN PB menunjukkan eksistensi nasionalisme pembebasan bangsa Papua dan menolak pendudukan pemerintahan Indonesia di Tanah Papua. Sama seperti bangsa Indonesia memerdekakan dirinya dari penjajahan Belanda dengan perlawanan senjata dari Tentara Indonesia, TPN PB sebagai sayap militer melaksanakan fungsinya. Sasaran TPN PB adalah kepada Polisi dan TNI, bukan kepada warga sipil. Wacana selama ini bahwa TPN PB menembak warga sipil adalah tidak benar dan itu hanyalah rekayasa aparat Indonesia untuk membangun mosi tidak percaya kepada masyarakat Internasional. Kalaupun ada, itu dilakukan oleh oknum (pribadi) mungkin karena alasan atau kepentingan tertentu atas
permainan pihak tertentu, bukan perintah pimpinan TPN PB. Karena itu sangat tidak masuk akal dan tidak dapat dipertanggung jawabkan jika dari pihak Negara Indonesia dapat beranggapan bahwa TPN PB atau aktifis Papua Merdeka itu identik dengan teroris.
Camkanlah bahwa hukum anti terorisme itu baru saja dilahirkan bersamaan dengan ancaman-ancaman terhadap fasilitas umum dan menakuti warga sipil, seperti pemboman terhadap gedung raksasa di Amerika Serikat yang disebut kantor pusat perekonomian dunia (WTC). Pasca pemboman gedung pencakar langit itu, Amerika Serikat menyerukan perang terhadap terorisme. Disaat yang sama pula Indonesia mendevinisikan terorisme sesuai kehendaknya hanya sebagai tameng untuk kepentingan menjaga teritorial NKRI dan ancaman keamanan serta ketertibaan umum.
Berikut ini saya mengutip devinisi teroris menurut satuan Densus 88 yang dimuat dalam pidato ibu Sidney Jones; ada dua macam kategori terorisme, yaitu pertama, orang Islam radikal; kedua, orang separatis / nasionalis etno (www.crisisgroup.org/en/
Devinisi teroris kategori kedua ini sangat aneh dan memalukan. Dengan adanya devinisi kategori ke dua ini dapat melegitimasi Densus 88 dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sedang berusaha untuk menumpas aktifis Papua merdeka yang sudah berjuang lama sebelum devinisi teroris itu dilahirkan. Ironis memang, tapi nyata bahwa langkah ini ditempuh RI setelah metode-metode lain yang diterapkan selama ini gagal menumpas gerakan pembebasan bangsa Papua. Tetapi apakah upaya RI untuk menerapkan hukum anti terorisme di Papua akan berhasil?
Sesungguhnya Negara Indonesia mengintropeksi diri sebelum menerapkan hukum anti terorisme di Papua. Jika itu diterapkan di Papua, maka tindakan itu hanyalah menuai kritik dan memalukan nama Indonesia dikancah masyarakat Internasional. Mengapa saya katakan demikian? Masyarakat internasional telah tahu dan paham bahwa perjuangan bangsa Papua itu bukan mengacaukan keamanan, bukan makar/ separatis, bukan teroris yang menakuti warga sipil, tetapi perjuangan bangsa Papua adalah untuk memulihkan kembali kemerdekaan kedaulatan bangsa Papua yang dianeksasi secara sepihak ke dalam NKRI pada tahun 1960 - an.
Masyarakat Internasional sudah tahu bahwa sarang teroris itu hanya ada di wilayah-wilayah Indonesia tertentu dibagian barat dan tengah yang berpenganut Islam Radikal yakni jihad.
III. TANGGAPAN MASYARAKAT INTERNASIONAL ATAS STIGMATISASI.
Taktik politik stigmatisasi Negara Indonesia kepada aktifis Papua merdeka melahirkan berbagai kontro versi dikalangan masyarakat Internasional. Secara umum ada tiga sikap muncul menyikapi stigmatisasi itu, yakni: ada orang yang pro stigmatisasi artinya mendukung stigmatisasi RI, dan ada juga orang yang kontra stigmatisasi artinya menolak stigmatisasi RI. Dan ada orang yang mengambil sikap netral (tidak juga pro, tidak juga kontra). Selain itu ada pula masyarakat internasional yang sangat tidak tahu (buta) dengan penindasan yang terjadi di Tanah Papua oleh Negara Indonesia.
Mengambil sikap pro dan kontra serta sikap netral untuk menyikapi suatu hal dalam dinamika kehidupan umat manusia di dunia adalah wajar dan biasa. Masing-masing sikap dan tindakan: pro, kontra, dan netral yang ditampilkan itu tentu memiliki latar-belakang pemahaman atas masalah dan gerakan perjuangan bangsa Papua yang berbeda-beda.
Ada orang yang mendukung stigmatisasi kepada aktifis Papua merdeka karena memang watak dan karakternya anti penegakkan kebenaran, keadilan, kejujuran, kedamaian, kebebasan, demokrasi, dan Hak Asasi Manusia. Ada pula orang mendukung stigmatisasi RI kepada aktifis Papua merdeka, walaupun ia tidak memahami baik latar belakang berbagai masalah di Tanah Papua, tetapi karena dipengaruhi oleh Negara Indonesia melalui berbagai kampanye dan lobi dalam forum-forum resmi dan non resmi di negara-negara dan dalam forum PBB.
Mereka yang berhasil dipengaruhi oleh RI, tentu memainkan peran ganda, di lain sisi mereka mempengaruhi masyarakat dan negara asalnya untuk tidak mendukung perjuangan penentuan nasib sendiri bagi bangsa Papua dan lain sisi mereka mempengaruhi masyarakat Internasional di negara-negara di dunia melalui jaringan kerja atau media cetak atau elektonik untuk tidak mendukung perjuangan bangsa Papua untuk berdaulat penuh. Ada pula pendukung stigmatisasi tertentu memberikan dukungan penuh kepada Negara Indonesia untuk menumpas gerakan pembebasan Nasional Papua Barat.
Bagi masyarakat Intenasional tertentu yang mendukung stigmatisasi kepada aktifis Papua merdeka oleh Negara Indonesia yang dilegalkan melalui produk hukum Indonesia, mereka itu secara sadar atau tidak sadar, secara langsung maupun tidak langsung telah mendukung penuh upaya sistematis dan terencana yang dipraktekkan oleh Indonesia untuk memarginalisasi, mendiskriminasi, membuat ketidak-adilan, membuat orang Papua menjadi minoritas di Tanah Papua, dan etnis Papua menjadi punah secara perlahan tetapi pasti (slow motion genocide).
Sedangkan bagi masyarakat Internasional yang kontra stigmatisasi (menolak stigmatisasi) kepada para aktifis Papua merdeka adalah mereka yang memahami baik tentang akar permasalahan dan penderitaan yang dialami oleh rakyat pribumi bangsa Papua serta memahami baik tentang nilai-nilai universal dan Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia oleh PBB serta menegakkannya. Mereka bukan hanya menolak stigmatisasi tanpa tindakan, tetapi diantara mereka, ada pula yang mengorbankan tenaga, waktu, moril dan materilnya untuk mendukung perjuangan rakyat bangsa Papua. Mereka ini masuk dalam kategori sayap keempat, yakni sayap simpatisan. Mereka memperkuat tiga sayap perjuangan Papua, yakni sayap sipil, militer dan diplomat.
Para simpatisan melakukan berbagai bentuk aktifitas untuk menaikan publikasi internasional dan mendesak pemerintahan asalnya serta PBB, juga Pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah-langkah kongkrit guna menyelesaikan masalah-masalah di Papua Barat. Keterpanggilan mereka dalam mendukung perjuangan bangsa Papua adalah murni keterpanggilan kemanusiaan. Tidak ada kepentingan lain, kecuali kepentingan untuk menyelamatkan rakyat bangsa Papua dari diskriminasi, marginalisasi, ketidak-adilan, minoritas dan kepunahan etnis Papua secara perlahan tetapi pasti. Mereka bekerja tanpa pamrih, bekerja tanpa upah. Satu hal yang tidak dapat diambil dari mereka yang menaruh hati bagi penderitaan rakyat pribumi Papua adalah melalui sikap dan tindakan solidaritas itu, mereka menaburkan benih-benih kebaikan dalam kebun kehidupannya masing-masing.
Sementara itu ada pula masyarakat Internasional yang memilih sikap netral. Sikap itu diambil karena ada beberapa pertimbangan, antara lain: 1) Mungkin mereka tidak mau ambil resiko karena setiap sikap pro atau kontra yang diambil tentu ada pengorbanan (pengorbanan berupa materil maupun moril); 2) Mungkin tidak mau ambil pusing karena tidak simpati dengan penindasan yang terjadi di Tanah Papua; 3) mungkin juga tidak mau hubungan kerja sama antara mereka dan RI tidak terganggu, artinya lebih mengutamakan kepentingan ekonomi dan politik mereka, ketimbang mendukung gerakan Papua yang tidak memberi manfaat secara langsung dalam kehidupan mereka; 4) mungkin juga karena ada alasan lain.
Masyarakat Internasional yang tergolong dalam kategori keempat yang tidak tahu tentang masalah darurat kemanusiaan terselubung di Tanah Papua itu tentu terjadi karena mereka tidak mengikuti dinamika kehidupan masyarakat global melalui media cetak maupun elektonik. Dan ini tentu dilatar belakangi oleh beberapa faktor, antara lain: 1) mungkin karena segala waktu difokuskan pada pekerjaan dan rutinitas harian mereka; 2) Mungkin tidak tersedianya sarana komunikasi, media cetak dan elektronik; 3) mungkin karena ada alasan lain, seperti lanjut usia, cacat fisik, dan lain sebagainya.
Berikut ini saya menampilkan beragam tanggapan masyarakat internasional terhadap stigmatisasi kepada aktifis Papua merdeka oleh Negara Indonesia.
Stigmatisasi: makar, separatis, teroris, dan sebagainya yang telah dilegalisasi dalam suatu produk hukum Indonesia telah menuai kontro versi. Masyarakat Internasional yang kontra stigmatisasi, baik secara individu atau lembaga, seperti Amnesti Internasional, ETAN, HRW, Group-group pendukung di dunia, dan Dewan HAM PBB telah berkali-kali mengecam Pemerintah Indonesia untuk menghentikan stigmatisasi makar, separatis, teroris dll, menghentikan kekerasan dan meminta pemerintah Indonesia menyelesaikan masalah-masalah Papua dengan demokratis dan bermartabat.
Salah satu kampanye yang menguat di masyarakat Internasional adalah terkait penerapan hukum makar di Indonesia. Mereka medesak Negara Indonesia segera mencabut hukum tertentu seperti hukum makar yang melegalkan tindakan sewenang-wenang oleh aparat keamanan dan militer Indonesia terhadap rakyat sipil karena sikap dan tindakan RI itu: 1) Mengabaikan nilai-nilai universal yang dijunjung tinggi oleh umat manusia di dunia, seperti: demokrasi, kebenaran, keadilan, kejujuran, kedamaian, Hak Asasi Manusia dan kebebasan; 2) Melanggar prinsip-prinsip Dasar Deklrasi Umum Hak Asasi Manusia oleh PBB dan kovenan-kovenan Internasional lainnya, seperti Deklrasi Hak-Hak Dasar Masyarakat Pribumi, Kovenan Internasional tentang hak-hak sipil dan politik; dan Kovenan Internasional tentang hak-hak sosial budaya, ekonomi dan politik.
Salah satu kasus tuduhan makar yang dijerat kepada tuan Filep J. S. Karma di mana beliau dipenjara selama 15 tahun menjadi kasus yang sangat diseriusi oleh masyarakat solidaritas Internasional. Para simpatisan melalui beberapa pengacara hukum Internasional membawa kasus tuan Filep ke arbitrasi Internasional di PBB. Sesuai keterangan dari tuan Filep bahwa gugatan ke arbitrasi internasional itu dimenangkan oleh Filep pada tahun 2011 dengan keputusan: Penahanan Filep J. S. Karma oleh Negara Indonesia adalah penahanan sewenang-wenang (penahanan illegal) maka Pemerintah Indonesia harus segera bebaskan tanpa syarat. Namun, sampai saat ini keputusan itu tidak dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia. Tuan Filep masih di dalam penjara Abepura.
Selain itu salah satu Pidato yang menuai kontro versi adalah: Separatisme Papua vs Teroris Jihad: Dilema-Dilema Kebijakan Indonesia. Pidato ini disampaikan oleh Ibu Sidney Jones dalam program Kebijakan Internasional di Universitas Stanford Amerika Serikat pada tanggal 05/12/2012 dan diperbaiki pada 22/01/2013 serta dipublikasikan lewat internet: www.crisisgroup.org/en/
Dalam pidato ibu Jones itu membandingkan dua gerakan di Indonesia: pertama gerakan Papua, yang beliau sebut: Separatis Papua; dan kedua, gerakan jihad teroris. Jones mengatakan: kedua gerakan yakni Jihad teroris dan gerakan orang Papua yang sedang berjuang untuk merdeka membuat tindakan jahat yang mirip, walaupun mereka selalu dituduh dengan pandapat berbeda. Dalam pidato itu ia berusaha menggali informasi dari berbagai sumber untuk berusaha menyamakan aktifitas Pejuang Papua ke dalam ranah teroris.
Berikut ini kutipan pidato dari ibu Jones: Setahu saya, hingga sekarang belum ada upaya sistemnya untuk mempromosikan kelepasan dari ikatan kekerasaan di Papua, walaupun mungkinKAPOLDA akan baru memulai suatu program seperti itu nanti.
Pernyataan ibu Jones di atas, secara terselubung beliau mendukung upaya tudingan teroris yang diungkapkan oleh Kapolda baru, Tito Karniavan kepada aktifis KNPB. Sebaiknya Ibu Jones tidak secara langsung menuduh gerakan Papua semirip teroris.
Ibu Jones tidak tahu siapa sesungguhnya yang menciptakan kekerasan di Tanah Papua. Berikut ini tanggapan Ed McWilliams: Khususnya di Papua Barat di mana rivalitas polisi militer tentang akses pada sumber alam dan pemerasan sangat terkenal. Sebaiknya Jones tahu pula bahwa militer, polisi dan aparat-aparat inteligen Indonesia sudah lama sekali berperan sebagai pelaku yang menimbulkan dan merekayasa tindakan kekerasaan untuk mencapai tujuan-tujuan terselubung, demikian komentarnya.
Pernyataan ibu Jones seolah-olah pihak TNI dan POLRI tidak melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap orang asli Papua, padahal justru TNI dan POLRI menjadi dalang dan pemicu kekerasan yang berkepanjangan di Tanah Papua hanya demi mencapai kepentingan politik dan ekonomi semata. Untuk mencapai kepentingan-kepentingan itu, berbagai skenario secara teratur, rapih dan sistematis dimainkan oleh kaki tangan RI di Tanah Papua, seperti yang terjadi dalam demonstrasi damai pada tanggal 16 Maret 2006 di Abepura yang berakhir bentrok dengan aparat polisi.
Kasus ini murni didalangi dan dimainkan oleh aparat polisi dan intelijen Indonesia bekerja sama dengan pihak tertentu yang menjadi mitra kerja mereka. Di pihak polisi kasus ini mengakibatkan tiga brimob dan satu militer TNI angkatan udara tewas serta beberapa polisi mengalami luka berat dan ringan. Dan di pihak warga sipil, beberapa orang mengalami luka tembak, selanjutnya polisi/brimob menggelar penyisiran brutal di Abepura dan sekitarnya. Akibat penyisiran membabi buta oleh polisi itu mengalami: pengrusakan fasilitas dibeberapa asrama mahasiswa, teror intimidasi terhadap warga sipil, penangkapan sewenang-wenang, disertai penyiksaan brutal akibatnya banyak orang mengalami luka berat dan ringan.
Tragedi kelabu 16 Maret 2006 itu adalah skenario tingkat tinggi yang dikemas secara teratur dan rapih oleh pihak aparat dan intelijen Indonesia hanya untuk mencapai empat kepentingan, yakni: 1) Untuk meredam demonstrasi damai yang meluas dan menggema di negara-negara dunia dengan tuntutan sentral: tutup PT Freeport Indonesia di Timika- Papua, dan AS, RI dan Papua mengadakan dialog atau perundingan; 2) Bagi pihak-pihak yang terlibat secara langsung dan tidak langsung untuk meredam demonstrasi itu mendapatkan imbalan atau balas jasa, antara lain berupa uang; 3) Untuk menaikan pangkat dan jabatan bagi aparat Indonesia yang terlibat dalam meredam demonstrasi damai yang meluas dan menggema itu; 4) Untuk membangun mosi tidak percaya dan mendegragasikan perjuangan pembebasan bangsa Papua.
Pasca tragedi itu, untuk mengelabui publik Internasional, aparat polisi dengan sewenang-wenang menangkap seratus lebih orang Papua yang mayoritasnya adalah mahasiswa. Dan hanya 24 orang saja dipenjara di Abepura dengan hukuman berat paling tinggi 15 tahun. Mereka itu sebenarnya bukan pelaku pembunuhan brimob dan militer dalam tragedi 16 Maret 2006 itu. Tetapi demi melindungi dan menyembunyikan permainan aparat Indonesia, 24 orang itu divonis bersalah dan dipenjara.
Jones sebagai senior aktifis HAM sudah tahu bahwa selama ini Negara Indonesia tidak memberikan akses bagi wartawan asing dan pekerja kemanusiaan asing masuk ke Papua Barat untuk melihat dan mendengar langsung penderitaan dan harapan hidup orang asli Papua. Ibu Jones mestinya bertanya: Kenapa tidak memberikan akses bagi wartawan asing dan pekerja kemanusiaan asing masuk ke Papua Barat, seperti tidak memberi ijin bagi pelapor khusus PBB yang membidangi kebebasan berekspresi untuk datang ke Papua Barat dan Ambon pada bulan Januari 2013? Jawabannya: Negara Indonesia takut terbongkar segala bentuk penindasan terhadap orang asli Papua dan orang Ambon-Maluku.
Nampaknya ibu Jones belum memahami baik tentang latar belakang sejarah bangsa Papua yakni distorsi sejarah yang menjadi akar permasalahan di Papua Barat. Ibu Jones juga belum melihat secara langsung bagaimana orang Papua hidup dalam tekanan, intimidasi dan teror dari TNI dan POLRI, ia pun belum melihat secara langsung bagaimana orang asli Papua semakin dimarginalisasi, semakin didiskriminasi, menjadi minoritas, mengalami ketidak-adilan, dibantai oleh TNI dan POLRI melalui operasi militer terbuka maupun tertutup; akibat dari penindasan RI dan para sekutunya itu, orang asli Papua saat ini sedang menuju kepunahan etnis secara perlahan, tetapi pasti. Karena ibu Jones belum melihat langsung dan belum mengalami betapa pahitnya penindasan RI kepada orang asli Papua, maka itu dalam pidatonya ia berusaha memojokkan perjuangan bangsa Papua untuk penentuan nasib sendiri dan berusaha menyamakan gerakan pembebasan bangsa Papua dengan gerakan jihad teroris di
Indonesia.
Dalam pidatonya, ibu Jones tidak mengangkat segala bentuk pelanggaran HAM dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Negara Indonesia kepada rakyat pribumi Papua sejak tahun 1962 sampai saat ini. Dari isi pidatonya, kami tahu bahwa ibu Jones berusaha menyembunyikan segala bentuk penindasan RI dan berusaha membangun mosi tidak percaya terhadap perjuangan rakyat bangsa Papua. Ibu Jones sebagai senior dalam bidang HAM semestinya dengan jujur mengungkapkan fakta-fakta penindasan dari Negara Indonesia dan para sekutunya yang dialami oleh orang asli Papua. Dengan demikian saya menilai bahwa dalam pidato itu ibu Jones memposisikan diri bukan sebagai aktifis HAM, bukan juga sebagai ilmuwan, tetapi memposisikan diri sebagai mitra kerja dari Negara Indonesia dan secara tidak langsung ibu Jones mendukung segala bentuk penindasan RI kepada rakyat pribumi Papua Barat.
Pidato yang dibuat Jones ini tergolong seruan atau memotifasi kepada Negara Indonesia untuk meningkatkan penumpasan aktifis Papua merdeka, yaitu dari penerapan hukum makar /separatis ditingkatkan ke penerapan hukum anti terorisme, dan dengan demikian membunuh penentuan nasib sendiri bagi bangsa Papua. Pidato itu ditanggapi juga oleh Ed McWilliams, berikut ini kutipan tanggapannya: Seruan Jones untuk Indonesia mendefinisikan seperatisme sebagai terorisme akan mengeraskan usaha menargetkan suara para aktifis/kelompok yang menyampaikan dengan damai tidak disetujui dan sekaligus meningkatkan intimidasi terhadap orang Papua secara umum, demikian komentarnya.
Dalam pidato itu ada sisi lain yang penting dihargai. Saya selaku tahanan politik Papua yang saat ini berada dalam Penjara Abepura, saya memberikan apresiasi kepada ibu Jones karena melalui pidato itu memberikan peringatan dini kepada para aktifis Papua Merdeka untuk menghindari skenario besar secara terselubung yang didorong oleh RI untuk menumpas gerakan pembebasan Papua Barat dengan meningkatkan dari status separatis ke status teroris. Selain itu, di sisi lain pidato ibu Jones juga memberikan masukan bagi Indonesia untuk tidak menggunakan hukum anti terorisme. Berikut ini komentar ibu Jones: Salah satu solusinya adalah untuk tidak menerapkan hukum anti-terorisme di Papua, dan juga untuk berhenti menggunakan hukum itu terhadap para jihad yang membuat kejahatan yang pada pokoknya tidak merupakan tindakan dengan sengaja yang bertujuan menciptakan ketakutan, yaitu berbagai tindakan yang bisa dihukum dengan menerapkan hukum lain termasuk kode hukum
kriminal untuk kejahatanseperti pembunuhan, perampokan dan sergapan, demikian pernyataannya.
IV. DAMPAK STIGMATISASI YANG DILEGALKAN DALAM HUKUM RI.
Berbagai stigmatisasi oleh RI kepada aktifis Papua merdeka yang dilegalkan dalam produk hukum Indonesia telah melemahkan perjuangan bangsa Papua, namun pada saat yang sama pula mengobarkan semangat perjuangan Pembebasan Papua Barat dan meningkatkan dukungan solidaritas masyarakat Internasional.
Stigmatisasi yang dilegalisasi melalui produk hukum seperti hukum makar itu di lain sisi dapat membunuh psikologis orang asli Papua untuk berjuang, berusaha membungkam suara kebebasan, berupaya mendegradasikan gerakan perlawanan dan menumpas aktifis Papua merdeka, banyak orang Papua dibunuh, banyak orang Papua menderita, banyak materi korban, banyak orang Papua mengungsi ke negara-negara lain, penangkapan sewenang-wenang, pemenjaraan, membangun mosi tidak percaya kepada masyarakat internasional agar menurunkan dukungan mereka atas Papua, tetapi pada sisi lain menumbuhkan nasionalisme kebangsaan Papua, membangkitkan keberanian untuk memperjuangkan pembebasan Papua dan meningkatkan simpati masyarakat internasional. Negara Indonesia berpikir bahwa dengan melakukan tindakan sewenang-wenang, orang asli Papua akan berhenti berjuang, namun anggapan ini tidak berhasil dan Negara Indonesia telah gagal total meng-indonesia-kan orang asli Papua.
Dalam sejarah perjuangan bangsa-bangsa di dunia yang sudah berdaulat penuh (merdeka), yang namanya ideologi pembebasan nasional itu tidak pernah musnah. Ideologi itu mengalir dalam darah nadi dari generasi ke generasi. Sepanjang generasi penerus ideologi itu masih ada, maka selama itu pula ideologi pembebasan nasional itu tetap mengalir dalam darah nadi setiap generasi penerus. Karena itu istilah para penguasa Negara mana pun untuk menumpas ideologi sampai ke akar-akarnya tidak pernah berhasil. Ideologi itu akan musnah, apabila tidak ada generasi yang dapat meneruskan ideologi para pendahulunya.
Demikian pula perjuangan bangsa Papua untuk berdaulat penuh (merdeka). Sepanjang masih ada penerus ideologi pembebasan nasional Papua, maka selama itu pula ideologi Papua merdeka terus mengalir dalam darah nadi orang asli Papua. Ideologi Pembebasan Nasional itu musnah, apabila etnis Papua musnah dari muka bumi ini.
Negara Indonesia melalui sistemnya dapat membunuh orang Papua satu persatu melalui berbagai operasi terbuka dan tertutup, tetapi RI tidak akan pernah membunuh ideologi Pembebasan Nasional Papua Barat. Negara Indonesia melalui TNI dan POLRI menangkap dan memenjara orang asli Papua satu persatu, tetapi RI tidak akan pernah memenjara semangat nasionalisme. Negara Indonesia dapat memaksa menerapkan Paket Politik Undang-undang Otonomi Khusus di Tanah Papua sebagai tawaran untuk tetap berada dalam NKRI, tetapi Otonomi Khusus itu tidak akan pernah menawarkan hati dan tidak melemahkan orang asli Papua untuk berjuang kebebasan total. Berbagai operasi militer ditempuh untuk meredam perjuangan bangsa Papua, tetapi moncong senjata polisi dan militer Indonesia tidak pernah meredam suara kebebasan bangsa Papua.
Dari sejak tahun 1962 sampai tahun 1998 rakyat bangsa Papua berada dibawah kekuasaan tangan besi (rejim Soekarno di jaman orde lama dan rejim Soeharto di jaman orde baru) dilarang untuk melakukan aktifitas Papua Merdeka apa pun; mengucapkan kata Papua saja ditumpas dengan tangan besi. Tetapi di era itu pun nasionalisme kebebasan nasional Papua tumbuh subur, apalagi mulai era reformasi sejak tahun 1998 bersamaan dengan penggulingan resim tangan besi (alm Soeharto), nasionalisme kebebasan Papua yang disumbat, krans itu terbuka dan kini nasionalisme kebebasan itu telah mengalir ke berbagai penjuru dunia. Nasionalisme kebebasan Bangsa Papua itu tumbuh subur di atas air mata darah, nasionalisme itu terbangun kokoh di atas tulang belulang para pejuang pendahulu Bangsa Papua, dan jalan setapak menuju kebebasan nasional Papua Barat yang dirintis para pejuang pendahulu itu, kini makin meluas dan semakin hari semakin permanen.
V. KIAT-KIAT MENGHADAPI STIGMATISASI.
Tidak ada cara lain untuk menghadapi stigmatisasi RI yang dilegalkan dalam produk hukum jikalau orang asli Papua tidak menempuh dengan jalan perlawanan apa pun resiko. Apa pun jenis stigma yang dilabelkan pada orang Papua, apa pun hukum yang mengekang kebebasan berekspresi, apa pun tindakan sewenang-wenang yang membatasi kebebasan berpendapat orang asli Papua, apa pun produk hukum yang melarang kebebasan berorganisasi dan berkumpul, apa pun hukum yang melegalkan untuk menumpas perjuangan penentuan nasib sendiri bangsa Papua, saya katakan tidak ada jalan lain, kecuali orang asli Papua tempuh melalui jalan perlawanan. Ingat: jangan sampai orang asli Papua lupa bahwa dalam kongres bangsa Papua kedua pada tahun 2000 rakyat pribumi Papua telah memutuskan bahwa mengawal perjuangan kebebasan bangsa Papua dengan JALAN DAMAI (non violent).
Camkanlah bahwa tidak ada kata menyerah dan tidak ada kata tunduk kepada rejim penjajah mana pun dalam kamus revolusi pembebasan nasional. Slogan yang terukir dalam kamus revolusi pembebasan bangsa adalah: maju pantang mundur, maju tak gentar untuk menghalau rejim penjajah guna menegakkan keadilan, kebenaran, kejujuran, demokrasi, Hak Asasi Manusia dan menciptakan damai sejahtera di bumi seperti di Surga.
Ada banyak cara perlawanan yang kita dapat tempuh sesuai dengan jalan yang kita pilih melalui jalan damai, selain itu kita juga menghargai jalan yang ditempuh oleh sayap militer (TPN PB). Karena pilihan utama jalan politik kita melalui jalan damai, maka itu kita harus memanfaatkan dan memaksimalkan kekuatan-kekuatan yang ada pada kita.
Kekuatan utama kitaadalah berada pada kedaulatan rakyat bangsa Papua. Kekuatan itu kita belum bangkitkan secara menyeluruh di bawah satu komando untuk satu tujuan, di bawah satu wadah politik yang menjadi kendaraan politik bersama, dan dibawah satu konsep ideologi perjuangan serta agenda-agenda strategis dan program kerja bersama. Melalui kendaraan politik bersama dibawah satu kepemimpinan politik sentral dapat mengkoordinasikan ketiga sayap yang ada, yakni sayap sipil, sayap militer, sayap diplomat; dan juga mengembangkan jaringan solidaritas atau kata lain mitra kerja dengan para simpatisan solidaritas masyarakat internasional sebagai sayap keempat.
Melalui organisasi yang tertata rapi dan jaringan solidaritas yang ada, kita meningkatkan kerja-kerja politik untuk memutuskan mata rantai penindasan RI dan para sekutunya melalui dua solusi final, yakni pilihan pertama dan terutama adalah pengakuan kemerdekaan kedaulatan bangsa Papua secara de jure; dan pilihan kedua adalah refrendum ulang.
Posisi tawar tertinggi bangsa Papua berada pada hasil Kongres Bangsa Papua ketiga. Kenapa saya katakan demikian? Saya hanya melihat dari sisi kekuatan demokrasi, kekuatan politik dan kekuatan hukum yang lahir dalam Kongres Bangsa Papua ketiga. Rakyat bangsa Papua yang datang mensukseskan kongres itu adalah kekuatan demokrasi. Kongres itu adalah sarana untuk berkumpul, berdiskusi, menyampaikan pendapat dan menyepakati serta memutuskan apa yang dikehendaki bersama; itulah kekuatan demokrasi. Dan apa saja yang dilahirkan dalam Kongres Bangsa Papua ketiga sebagai forum demokrasi tertinggi bangsa Papua itulah kekuatan politik dan kekuatan hukum. Maka itu mari kita kompromi politik internal bangsa Papua untuk bersatu dalam satu konsep ideologi perjuangan, agenda strategis-program kerja bersama, bersatu dalam satu organisasi sentral yang menjadi kendaraan politik bersama, dan bersatu dalam kepemimpinan sentral yang diterima dan diakui bersama agar kita menjadi
kuat menuju mekanisme internasional. Ketika kita bersatu, maka kita akan kuat untuk menuju kemenangan akhir.
Sesungguhnya Negara Indonesia secara politik sudah kalah, karena dalam Kongres Bangsa Papua ketiga kita sudah tutup dengan JOKER yaitu Deklarasi pemulihan kemerdekaan kedaulatan bangsa Papua dan berdirinya Negara Federal Republik Papua Barat (NFRPB) pada tanggal 19 Oktober 2011 di Lapangan Zakeus Padang Bulan - Abepura - Jayapura - Papua Barat. Kekuatan demokrasi, politik dan hukum telah terpenuhi dalam hasil Kongres Bangsa Papua ketiga, maka itu sekarang mari kita kompromi politik internal bangsa Papua dan mengawal itu untuk mendapatkan pengakuan secara de jure dan peralihan kekuasan adminitrasi pemerintahan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ke Negara Federal Republik Papua Barat (NFRPB). Ini hanyalah bersifat tawaran saja, saya tidak memaksa siapa pun; dan pada prinsipnya saya menghormati posisi Anda masing-masing dan menghargai semua upaya yang ditempuh oleh semua komponen bangsa Papua untuk memutuskan mata rantai penindasan RI dan para
sekutunya.
Jika kita tidak kompromi politik internal bangsa Papua, maka silahkan kita mencari jalan lain yang terbaik, yang dikehendaki oleh semua komponen bangsa Papua.
Camkanlah bahwa banyak orang asli Papua menderita, banyak orang Papua dibantai, dimarginalisasi, orang Papua menjadi minoritas, didiskriminasi, banyak orang Papua mengungsi ke negara lain, banyak orang Papua ditangkap dan dipenjara, jadi jangan kita bertahan pada posisi masing-masing yang mengakibatkan menunda kemerdekaan kedaulatan penuh bagi bangsa Papua di negeri Papua Barat dan akhirnya memperpanjang penindasan oleh RI dan para sekutunya kepada orang asli Papua Barat.
Terkait dengan tudingan teroris, kita tidak perlu takut, tetapi kita waspada dan menghindari tindakan-tindakan tertentu yang melegitimasi RI untuk meningkatkan operasi dari status separatis menjadi status teroris. Untuk itu kita tingkatkan kampanye dan lobi melalui jaringan yang ada untuk meyakinkan kepada masyarakat Internasional bahwa tudingan teroris kepada aktifis Papua merdeka itu adalah upaya NKRI untuk meredam perjuangan luhur bangsa Papua. Perlu kita tahu bahwa cara-cara lain untuk menghadapi perjuangan bangsa Papua sudah gagal total seperti penerapan hukum makar, maka kini Negara Indonesia sedang berancang-ancang meningkatkan penerapan hukum anti terorisme di Tanah Papua.
Selama ini RI menggunakan slogan: Perang Melawan Separatis Papua, dan ternyata itu sudah gagal total, maka RI hendak mau ganti dengan slogan: Perang Melawan Teroris Papua. Tetapi kasihan, upaya RI bagaikan menyaring angin, pasti akan gagal total sampai Negara Indonesia akan angkat kaki dari tanah Papua dengan kepala tertunduk malu, sama seperti Negara Indonesia mengangkat kaki dari Tanah Timor Timur pasca kemenangan refrendum bagi rakyat Timor Timur, di mana pada saat itu polisi dan militer Indonesia dipukul mundur oleh pasukan PBB yang dipimpin pasukan/tentara elit dari Australia pada tahun 1999. Sebaliknya, jika Negara Indonesia dengan lapang dada mengakui kemerdekaan kedaulatan bangsa dan Negara Papua dengan bermartabat dan selanjutnya mengatur kerja sama di antara dua bangsa dan dua negara yang setara, maka negara Indonesia akan mengangkat kaki dari tanah Papua dengan kepala terangkat dan akan mendapat penghargaan yang setinggi-tingginya dari
masyarakat Internasional; dan saya yakin rencana pemberian Nobel Perdamaian dunia pasca perjanjian damai RI dengan Aceh di Helsingky kepada presiden RI (SBY) yang telah tertunda akan terwujud. Dengan demikian, nama Indonesia menjadi harum dan terhormat di dunia Internasional.
PESAN PENUTUP.
Akhir dari tulisan ini, saya menyampaikan berapa pesan kepada beberapa pihak, antara lain:
1). Kepada Negara Indonesia, saya mengucapkan selamat berjuang mempertahankan Tanah Papua dalam bingkai NKRI dengan cara-cara kotor dan tidak beradab, tetapi saya ingin katakan bahwa segala upaya Negara Indonesia bagaikan menyaring angin ( tidak akan pernah berhasil); karena perjuangan bangsa Papua adalah perjuangan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, perjuangan untuk menegakkan jati diri setiap pribadi dan jati diri bangsa Papua sama seperti bangsa-bangsa merdeka lain di dunia, maka itu saya yakin bahwa perjuangan kebenaran dan keadilan bangsa Papua itu akan keluar sebagai pemenang akhir.
2). Kepada siapa pun para simpatisan masyarakat Internasional yang memberi perhatian bagi penderitaan rakyat pribumi Papua, Anda semua adalah bagian dari hidup kami, dan bagian dari sejarah perjuangan Papua Barat. Segala pengorbanan Anda terukir abadi dalam jejak langkah perjalanan bangsa Papua dari generasi ke generasi. Anda semua adalah sahabat dan saudara-saudari kami. Pengorbanan Anda semua adalah bentuk dukungan solidaritas secara nyata untuk menciptakan damai sejahtera di bumi seperti di Surga, khususnya di Tanah Papua. Anda adalah pencinta kebenaran dan keadilan untuk semua; Anda adalah pencinta kedamaian dan kebebasan untuk semua. Tidak ada kata terindah yang kami dapat mengukirkan pengorbanan para simpatisan solidaritas masyarakat Internasional di mana saja Anda berada, tidak ada barang terindah dan termahal yang dapat membalas kebaikan Anda kepada rakyat pribumi Papua. Hanyalah rasa terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam yang kami
ucapkan kepada setiap para simpatisan solidaritas masyarakat Internasional yang menaruh hati dan yang mendukung kami secara langsung dan tidak langsung bagi pembebasan bangsa Papua dari kemelut penindasan RI dan para sekutunya. Dengan rasa hormat yang amat mendalam dan dari lubuk hati yang paling dalam, kami pesan kepada Anda semua teruslah menaburkan benih-benih kebaikan dalam kebun kehidupan Anda dengan jalan mendukung kami dengan sumbangan moril dan materil menuju penyelesaian status politik dan hukum bagi bangsa Papua di negeri Papua Barat melalui: jalur perundingan; jalur hukum atau jalur dekolonisasi/politik untuk mencapai dua solusi final yaitu pilihan pertama dan terutama adalah pengakuan secara de jure dan atau pilihan kedua: refrendum ulang.
3). Saya mohon Anda dapat menyebarkan artikel ini kepada sesama aktifis Papua Merdeka dan para simpatisan solidaritas masyarakat Internasional di manca negara melalui email, face book, dan media sosial lainnya agar dapat memahami isinya dan ditindak-lanjuti agar tidak terjebak dalam skenario besar yang dikemas rapi dan sistematis yang sedang dibangun oleh NKRI melalui mesin-mesin pertahanannya dan dengan atas kerja sama para sekutunya diberbagai manca negara untuk mengiring perjuangan bangsa Papua ke ranah teroris, yang akhirnya dapat berdampak buruk pada perjuangan luhur bangsa Papua menjadi musuh dunia dan masuk dalam kotak alias tidak mendapat simpati masyarakat internasional. Kita intropeksi diri dan kita mengawal perjuangan bangsa Papua dengan arif, bijaksana, cerdas, bermartabat dan bertanggung jawab untuk mencapai ke tujuan utama perjuangan kita, yakni kebebasan total.
Sekian dan terima kasih.
Persatuan Tanpa Batas Perjuangan Sampai Menang.
(Penulis: Selpius A. Bobii, Ketua Umum Front Persatuan Perjuangan Rakyat Papua Barat, juga sebagai tahanan politik di Penjara Abepura - Jayapura - Papua Barat).
Suka · · Ikuti Kiriman · Bagikan · 11 jam yang lalu di sekitar Kota Jayapura
- Uaga Block Aud Netaichen menyukai ini.
0 komentar for "POLITIK STIGMATISASI PADA PERJUANGAN RAKYAT PRIBUMI PAPUA BARAT"